Dolar AS rontok setelah keluar pernyataan gubernur bank sentral AS Ben Bernanke yang memperingatkan pemulihan ekonomi di AS akan menempuh jalan yang tidak mulus.
Pada penutupan perdagangan Selasa waktu AS (15/7/2008) euro menekuk dolar AS di posisi 1,5903 dolar AS. Di awal perdagangan euro sempat menyentuh level 1,6038 dolar AS yang merupakan posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir, setelah sebelumnya mencatat rekor di 1,6019 dolar AS pada 22 April 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepercayaan pasar terhadap ekonomi AS mulai labil akibat kisruh di sektor keuangan dan krisis pembiayaan perumahan yang memaksa the Fed memangkas suku bunga dari semula 3,25% di September 2007 hingga mencapai level saat ini 2%.
Meski ekonomi AS sedang menghadapi tekanan berat, namun Bernanke melihat indikasi yang kuat adanya pertumbuhan dan mendinginnya inflasi di 2008 yang harus dijaga karena tingginya faktor ketidakpastian.
Pelaku pasar juga cemas terhadap nasib IndyMac, bank yang berbasis di California yang sedang kolaps serta kejatuhan dua saham perusahaan pembiayaan terbesar di AS, Fannie Mae and Freddie Mac.
"Secara keseluruhan memang terjadi ketidakstabilan di sektor keuangan yang membayakan ekonomi AS, walaupun the Fed sudah bekerja keras menaikkan suku bunga Fed Runds Rate untuk menekan inflasi," kata Terri Belkas, analist dari Forex Capital Markets seperti dilansir dari AFP, Rabu (16/7/2008).
Sementara investor yang memegang mata uang rupiah juga harus mencermati perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian karena bisa ikut menyeret pelemahan rupiah.
Pada perdagangan valas pukul 07.30 WIB, Rabu (16/7/2008) rupiah ada di level 9.138 per dolar AS dan ditransaksikan dikisaran 9.135-9.141 per dolar AS.
Posisi rupiah pagi ini terkoreksi tipis jika dibandingkan penutupan pasar pada Selasa kemarin (15/7/2008) di level 9.135 per dolar AS.
(ir/ir)











































