Kinerja Buruk, Harga Divestasi CMNP Terlalu Tinggi

Kinerja Buruk, Harga Divestasi CMNP Terlalu Tinggi

- detikFinance
Kamis, 31 Jul 2008 08:30 WIB
Kinerja Buruk, Harga Divestasi CMNP Terlalu Tinggi
Jakarta - Harga divestasi kepemilikan PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) di PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) dinilai terlalu tinggi. Sebab, kinerja CMNP masih kurang menguntungkan.

"Harganya yang mereka tawarkan terlalu tinggi," ujar CEO Grup Bosowa, Erwin Aksa, saat dihubungi detikFinance, Rabu (30/7/2008).

Grup Bosowa merupakan salah satu perusahaan yang ditawarkan BHIT terkait rencana divestasi sahamnya di CMNP. Meski Erwin enggan membeberkan, namun kabarnya harga yang ditawarkan Hary Tanoesoedibjo, pemilik BHIT, berada di kisaran Rp 2.000 per saham, lebih tinggi dari harga saham CMNP di pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga tersebut dinilai terlalu tinggi, sebab kinerja CMNP masih belum maksimal, terutama dengan tidak tercapainya target kinerja di anak usahanya PT Citra Margatama Surabaya (CMS) yang mengoperasikan jalan tol Waru-Bandara Juanda (12 km).

Jalur tersebut tidak berhasil memenuhi target jumlah kendaraan harian yang sebanyak 54 ribu per hari. CMS hanya berhasil mencapai sekitar 15 ribu kendaraan per hari, sehingga mempengaruhi pembukuan keuangan induknya, CMNP.

Tidak tercapainya target tersebut akibat belum dibangunnya jalan tol pendukung yakni Waru-Mojokerto, Waru-Tanjung Perak dan jalan bukan tol Surabaya Middle Eastern Ring Road. Jika rampung, volume kendaraan diperkirakan akan mencapai target.

Buruknya kinerja CMS inilah yang disinyalir menjadi salah satu alasan BHIT buru-buru hengkang dari CMNP.

Buruknya kinerja CMNP juga diperkuat dengan diturunkannya status operator jalan tol Cawang-Tanjung Priok-Jembatan Tiga tersebut, dari Stabil menjadi Negatif oleh lembaga pemeringkat Moody's.

"Pendanaan melalui utang atas 2 proyek tol terbaru CMNP di Surabaya dan Jakarta Selatan melemahkan portofolio keuangan perusahaan," ujar Assistant Vice President Moody's, Djoko Widodo.

Selain itu, penundaan pengerjaan proyek jalan tol Depok-Antasari, Jakarta Selatan dan tidak tercapainya target volume kendaraan di proyek Waru-Juanda juga menjadi alasan Moody's menurunkan status CMNP menjadi Negatif.

Padahal, menurut Widodo, seandainya 2 proyek tersebut berjalan dengan baik, akan meningkatkan rasio utang berbanding EBITDA hingga 5 sampai 6 kali.

"Saat ini kinerja CMNP sangat berisiko. Sebab seluruh pendapatannya yang stabil hanya diperoleh dari satu aset saja yaitu jalur Jakarta Intra Urban Toll (JIUT)," ujar Widodo.

Penetapan status Negatif tersebut, akan memiliki dampak pada kinerja CMNP ke depannya. Apalagi menurut Widodo, penetapan status Negatif ini dapat berpengaruh pada surat-surat utang yang dimiliki CMNP.

"Tentu penetapan status tersebut akan memberi beban negatif bagi BHIT dalam rencana pelepasan sahamnya di CMNP. Dengan penetapan status tersebut, boleh jadi harga jual BHIT yang cukup tinggi akan dipertimbangkan oleh calon pembeli mereka," ujar Analis PT BNI Securities, Muhammad Alfatih. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads