"Untuk menutupi kekurangan pendanaan capex, kami telah mendapat persetujuan pemegang saham untuk memperoleh pendanaan eksternal baru senilai US$ 250 juta. Salah satu opsi yang disetujui adalah penerbitan obligasi," ungkap Direktur Utama EXCL, Hasnul Suhaimi saat dihubungi detikFinance, Kamis (31/7/2008).
Pada tahun ini, EXCL menyiapkan anggaran capex sebesar US$ 1,25 miliar dan agenda pembiayaan kembali (refinancing) sebagian utang-utang perseroan sebesar US$ 600 juta terdiri dari obligasi US$ 350 juta dan obligasi US$ 250 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga akhir semester I lalu, EXCL telah memperoleh pendanaan eksternal dari 5 bank, terdiri dari Mandiri Rp 2,7 triliun, BCA Rp 3 triliun, DBS Rp 700 miliar, ABN AMRO US$ 50 juta dan HSBC US$ 50 juta.
"Kemudian pada Juli 2008, kami memperoleh pinjaman baru dari SMBC sebesar Rp 300 miliar," ujar Hasnul.
Jadi hingga akhir Juli 2008, pinjaman bank yang telah diperoleh EXCL sebesar Rp 6,7 triliun plus US$ 100 juta, atau setara dengan US$ 828,26 juta.
"Dari pinjaman yang telah diperoleh tersebut, sekitar US$ 600 juta telah digunakan untuk refinancing obligasi sebesar US$ 350 juta pada Januari dan dari obligasi yang US$ 250 juta, sudah direfinancing sebesar US$ 122,298 juta pada Juni lalu," ujar Investor Relations EXCL, Sylvia Hardiman.
Sehingga untuk agenda refinancing tahun ini masih ada sebesar US$ 127,702 juta. Sylvia mengatakan, sisa dana untuk refinancing tersebut tetap akan dilakukan tahun ini sesuai yang sudah dijadwalkan.
Dengan asumsi tersebut, setelah dikurangi agenda refinancing tahun ini sebesar US$ 600 juta, maka pinjaman yang masih dimiliki EXCL akan sebesar US$ 228,26 juta.
Jika untuk pendanaan capex sebesar US$ 1,25 miliar, porsi kas internal sebesar US$ 625 juta, maka setelah dikurangi pinjaman yang masih dimiliki perseroan, dana eksternal yang masih dibutuhkan akan sebesar US$ 396 juta.
"Fasilitas pinjaman dari Mandiri yang belum kami cairkan masih ada sebesar Rp 1,3 triliun (setara US$ 141,3 juta)," ungkap Hasnul.
Seandainya fasilitas dari Mandiri telah dicairkan, maka pendanaan eksternal yang masih dibutuhkan akan sebesar US$ 254,7 juta.
"Dari kekurangan tersebut, kami telah dapat persetujuan pemegang saham untuk pendanaan eksternal baru sebesar US$ 250 juta. Opsinya bisa obligasi rupiah atau dollar. Belum kami tentukan," ujar Hasnul.
Namun Hasnul mengatakan, jika opsi penerbitan obligasi batal dieksekusi, maka perseroan akan mencari pinjaman bank.
"Kami sedang menjajaki juga pinjaman dari beberapa bank lokal maupun asing. Bisa juga dari bank-bank yang memang sudah biasa memberi kami pinjaman," ungkap Hasnul.
Sejauh ini ada 9 bank yang pernah memberi pinjaman pada EXCL, yaitu: Mandiri, BCA, DBS, HSBC, ABN AMRO, Standard Chartered, Mizuho, JP Morgan dan SMBC.
Total outstanding debt EXCL saat ini sebesar Rp 12,4 triliun, terdiri dari pinjaman 9 bank dan obligasi denominasi rupiah sebesar Rp 1,5 triliun serta sisa obligasi dollar yang belum direfinancing sebesar US$ 127,702 juta.
"Rencananya dari hasil penjualan menara sebagian akan digunakan untuk melunasi utang-utang tersebut dan sebagian untuk pendanaan capex yang dari kas internal," ujar Hasnul.
Per akhir semester I 2008, posisi kas internal perseroan sebesar Rp 385,458 miliar. Namun dari penjualan 7000 menara telekomunikasi yang ditargetkan rampung triwulan IV 2008, EXCL diperkirakan akan meraup minimal sebesar US$ 945 juta. (dro/ir)











































