"Proposal ke pemerintah rencananya kami ajukan April 2009," ujar Direktur Keuangan INCO, Indra Ginting, usai acara di hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa Malam (12/8/2008).
Namun Indra masih belum dapat memberi informasi mengenai pabrik yang akan dibangun tersebut karena masih dalam tahap feasibility.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai investasi yang disiapkan juga masih belum dapat disebutkan. Namun Indra menjelaskan bahwa pembangunan pabrik pengolahan nikel membutuhkan dana yang sangat besar, sebab menggunakan teknologi tinggi.
"Sebagai contoh, untuk membangun pabrik pengolahan nikel dengan kapasitas 65 ribu metrik ton, dana yang dibutuhkan sekitar US$ 3,5 miliar. Jadi cukup mahal," jelas Indra.
Indra menjelaskan, waktu pembangunan pabrik akan sekitar 3 tahun, belum termasuk waktu yang dibutuhkan selama proses feasibility hingga persetujuan dari pemerintah.
"Jadi bicara pembangunan pabrik nikel itu bicara jangka panjang. Proposal yang akan kami ajukan April mendatang itu pun tidak langsung membangun pabrik, karena harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu," papar Indra.
Rencana pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari kontrak karya INCO dengan pemerintah. Kabarnya, keterlambatan INCO dalam menunaikan pembangunan pabrik menjadi sebab pemutusan kontrak penyediaan 1 juta bijih nikel saprolit per tahun dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas ANTM, telah meminta pada manajemen ANTM agar kontrak dengan INCO diputus lantaran jadwal pembangunan pabrik molor terus.
Meski kontrak diputus INCO menyatakan hingga saat ini belum melakukan revisi target-target kinerjanya di 2008.
"Target produksi kami tetap di kisaran 77-79 ribu ton tahun ini," ujar Indra.
Pada paruh pertama 2008 lalu, penjualan INCO terkoreksi 37,24% menjadi US$ 819,157 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 1,305 miliar. (dro/ir)











































