d'Mentor

Supaya Bisnis Tidak Sekedar Mengikuti Tren

detikTV, detikTV - detikFinance
Jumat, 28 Mei 2021 13:14 WIB
Jakarta -

Para pelaku bisnis terpaksa harus memutar otak dalam menangkap peluang agar tetap profit, terutama di saat pandemi COVID-19 yang memaksa para pebisnis untuk terus beradaptasi. Peluang bisnis salah satunya bisa didapat dengan mengikuti apa yang tengah menjadi tren di masyarakat.

Pebisnis yang juga Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumedang periode 2015-2018, Hendra Nugraha Diatmadja mengaku masa pandemi merupakan ujian bagi dunia bisnis. Ujian itu harus dilalui para pebisnis dengan mencari platform lain agar pelanggan tidak menjadi hilang, mempelajari perubahan tingkah laku pelanggan, dan mengoptimalkan layanan pengantaran dengan bekerjasama dengan pihak lain.

"Cara how to sell-nya itu benar-benar diubah banget. Asalnya kita menunggu bola, kemudian jalannya kita menjemput bola itu lebih ditingkatkan kembali," ujar pria yang akrab disapa Hendra Ciho itu dalam acara d'Mentor yang ditayangkan detikcom, Kamis (28/5/2021).

Lebih lanjut, Hendra mengatakan, dirinya tak mempermasalahkan jika orang terjun ke bisnis musiman. Menurutnya, pada dasarnya bisnis ialah mencari untung.
"Kalau saya sih kalau bisnis itu cuan, ujung-ujungnya cuan. Kalau memang selama bisnis itu menghasilkan baik jangka pendek ataupun jangka panjang atau punya skema ini bisa jadi longterm, jangka panjang, saya pikir no problem," katanya.

Sementara terkait peluang bisnis yang tengah trending, Hendra mengakui terkadang perusahaannya juga mengeluarkan produk yang mengikuti tren di pasar. Menurutnya, di dalam bisnis itu ada tiga fase yakni fase tren, fase kebiasaan (habbit), dan fase budaya (culture).

Hendra menyatakan hal itu tergantung dari target awal seorang pengusaha dalam memvisualkan bisnisnya di masa depan.

"Ketika bicara tren, bagaimana bisnis tersebut bisa menjadi tren kemudian bertransformasi menjadi habbit kemudian bertransformasi lagi menjadi culture. Itu yang paling hebat sebenarnya. KFC misalnya, atau ayam goreng tepung yang sebenarnya bukan budaya Indonesia, itu dari luar tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle orang-orang. Lalu kemudian juga minuman boba yang tren bisnisnya bukan mencari orang yang haus tapi sudah menjadi lifestyle, " jelas Hendra.

(hnf/hnf)