Culture Shock Bikin Gen Z Jadi Kutu Loncat di Dunia Kerja

ADVERTISEMENT

Culture Shock Bikin Gen Z Jadi Kutu Loncat di Dunia Kerja

Edward. F. Kusuma - detikFinance
Senin, 17 Okt 2022 14:04 WIB
Jakarta -

Fenomena Gen Z menjadi kutu loncat bisa jadi penilaian buruk oleh sebuah perusahaan. Sebab, kebiasaan itu secara tidak langsung dapat merugikan perusahaan.

"Dunia kuliah dan dunia kerja memang beda, makanya banyak fresh graduate itu shock, culture shock. Perusahaan ternyata begini, 'dia orang-orangnya saling senioritas', segala macam. Ada yang juga mungkin dia merasa capek dapat tekanan dari atasan. Itu yang buat fresh gradute resign," ujar Mentor Karier, Iestri Kusumah dalam acara d'Mentor detikcom, Kamis (13/10/2022).

Kebiasaan fresh graduate resign sebelum kontrak habis, kata Iestri, berdampak sangat signifikan bagi perusahaan. Lantaran, perusahaan tersebut harus mengeluarkan uang untuk proses pencarian kandidat baru.

"Karena kalau kutu loncat rugikan perusahaan. Dan kalau fresh gradute yang tiba-tiba pindah kerja baru satu bulan walaupun kontraknya harusnya satu tahun, itu kan udah ngaruh ke attitude dia juga, jadi penilaian HR sebagai fresh graduate kurang bisa berkomitmen," kata Iestri.

Iestri mengatakan mudahnya mencari kerja di masa sekarang, juga diikuti fenomena unik di kalangan fresh graduate khususnya Gen Z. Namun di balik itu, rendahnya loyalitas pegawai baru yang ditandai dengan cepatnya berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya juga berdampak buruk pada mereka. Iestri mengungkapkan, para pelaku kutu loncat akan 'ditandai' oleh para anggota komunitas HR.

"Kalau ada yang aneh unik itu ada obrolan-obrolan juga. Kadang namanya ada yang di-tag, ada yang nggak. Ada juga HR yang nggak tega, nggak diomongin, ada juga yang diomongin aja ke perusahaan mana 'hati-hati aja ada orang yang kayak gini, kalau yang parah diomongin namanya, biar enggak kena ke perusahaan lain," ujarnya.

Lebih lanjut Iestri mengatakan, kebiasaan kutu loncat jangan dianggap sebagai sebuah kewajaran. Pasalnya, kebiasaan itu selain merugikan perusahaan dan juga pencari kerja kelompok gen Z.

"Kalau sudah kontrak satu tahun ya satu tahun aja, jadi jangan sampai yang baru seminggu dia kabur, karena itu merugikan banget tentunya dari sisi fresh graduate sendiri, dia enggak dapat apa-apa dari perusahaan itu kalau baru kerja seminggu. Karena emang awal-awal kerja fresh graduate, nggak betah kerja jadi memang butuh penyesuaian adaptasi dan setelah mungkin satu tahun sudah lebih nyaman,"

Iestri mengatakan, lemahnya kebiasaan gen Z karena mudahnya cari kerja, berbeda dengan jaman dahulu yang cari kerja dengan datang secara langsung. Karena itu ia menekankan kepada para Gen Z untuk menghindari kebiasaan sebagai kutu loncat.

"Jadi suatu hal yang tidak wajar, jangan sampai diwajarkan," tutupnya.

(edo/edo)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT