Menteri LH/Kepala BPLH, Mohammad Jumhur Hidayat, menjelaskan kehadiran SRUK merupakan bagian dari percepatan implementasi Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon.
Platform ini bertugas sebagai satu sistem terpadu yang menghubungkan kementerian, lembaga, dan registri internasional yang mencatat setiap unit karbon di Indonesia. Sehingga seluruh proses perdagangan karbon baik untuk pasar domestik maupun internasional di Tanah Air akan melalui wadah ini.
"Semua cara yang konvensional kita lalui dan salah satu cara yang ekstra konvensional adalah dengan membangun ekosistem pasar karbon yang bisa kita perdagangkan," kata Jumhur dalam acara peluncuran SRUK, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2026).
Lebih lanjut, menurutnya platform ini juga berfungsi untuk menyelaraskan kebijakan karbon dengan target pengurangan emisi nasional atau Nationally Determined Contributions (NDC) dan pendanaan iklim.
Namun yang paling penting, keberadaan SRUK dapat menyederhanakan proses perdagangan unit karbon dan mengakui standar internasional. Sehingga seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang berada di kawasan perhutanan memiliki kesempatan untuk mendapat keuntungan dari pasar karbon ini.
"Ekosistem pasar karbon yang akan kita bangun tentu berkeadilan, transparan, traceable, dan yang paling utama adalah memastikan punya manfaat besar bagi ground people, masyarakat lokal. Karena sejatinya kita bisa menggunakan instrumen ini untuk pemerataan pembangunan di Indonesia," paparnya.
"Jadikan SRUK ini menjadi instrumen yang membuat kita semua bisa ikut ambil atau berkontribusi tidak hanya dalam urusan NDC atau pengurangan emisi, tapi juga sekaligus memastikan dalam semua dinamika ini masyarakat yang menjaga hutan, menjaga tapak di bawah, kita pastikan ikut sejahtera," sambung Jumhur.
Perdagangan Karbon RI Dilirik Asing, Bernilai Puluhan Miliar Dolar
Dalam kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan saat ini banyak investor asing yang sudah menyampaikan ketertarikannya terhadap pasar karbon Indonesia.
"(SRUK) satu pencapaian yang menurut saya adalah kebanggaan kita bersama. Karena kenapa? Dunia internasional yang selama ini menunggu, dan saya dengar, sudah menunggu sejak COP21 di Paris, bulan November," ujarnya.
"Banyak sekali investor dan pelaku-pelaku dari luar negeri yang sudah siap untuk masuk ke pasar karbon Indonesia," tegas Hashim.
Saat ditanya investor asing dari mana saja yang tertarik untuk masuk ke pasar karbon Indonesia, adik Presiden Prabowo Subianto ini mencontohkan ada Amerika Serikat (AS), Inggris, Norwegia, hingga Jepang dengan potensi nilai dana yang masuk hingga puluhan miliar dolar.
"Banyak, dari Amerika, dari Inggris, dari Norwegia, dari Belanda, dari Jepang, banyak. (Potensi nilai?) Banyak, itu kalau kita jumlahkan bisa puluhan miliar dolar ya," jawab Hashim. (igo/fdl)











































