Pemerintah Ngaku Telat Kembangkan Energi Alternatif

Pemerintah Ngaku Telat Kembangkan Energi Alternatif

- detikFinance
Rabu, 22 Des 2010 10:50 WIB
Jakarta - Pemerintah mengakui keterlambatannya untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai alternatif pengganti minyak bumi. Karena saat ini harga minyak dunia sudah naik lagi.

Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan pemerintah berjanji secepatnya berusaha mengembangkan energi terbarukan ini. Terkait menuju visi misi pemerintah yang mengacu pada perpres No.5/2010 untuk menaikkan peran sektor energi baru terbarukan (EBT) sebesar 17% di tahun 2025.

"EBT, khususnya energi terbarukan adalah suatu sumber energi yang niscaya sangat kita perlukan, namun keterlambatan kita dalam mengembangkannya ketika harga-harga minyak dunia sedang tidak dalam keadaan kondusif adalah sebuah hal yang menurut saya harus kita waspadai," kata Darwin ketika ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa malam (21/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan yang jadi tantangan selama ini adalah kita selalu terlena untuk menggunakan bahan bakar fosil ketika harga minyak mentah dunia sedang ramah. Padahal pemerintah sudah berupaya komitmen untuk EBT, namun masih belum bisa ambil sikap.

"Maka itu, pemerintah akan rumuskan insentif-insentif serta pemerintah akan menyusun hal yang lebih sistematik hingga pengembangan EBT lebih lanjut," ujar Darwin.

Darwin memaparkan pemerintah harus memiliki peranan pemerintah dalam pengembangan EBT ini. Misalnya, seperti membuat kerangka regulasi, dan jaminan untuk pengembangan EBT. Termasuk pula mengatasi distorsi harga yang ada pada kebijakan BBM subsidi, karena menurutnya ini ada kaitannya dengan tidak berkembangnya EBT.

"Tentu ini ada kaitannya dengan tidak berkembangnya EBT. Mengapa? Karena kalau harga minyak bumi mentah sedang murah dan EBT muncul, EBT tidak akan dibeli karena cenderung ke energi fosil, karena EBT pasti mahal," imbuh Darwin.

"Nah, nanti pilihannya adalah apakah EBT kita berikan insentif atau harga BBM fosil kita biarkan merangkak ke harga keekonomian," tukas Darwin. (dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads