Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan, inisiatif tersebut perlu dilakukan untuk mengatasi masalah energi yang saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil.
"Tentulah menarik bila kita mendengar di suatu pabrik, dari 100% kebutuhan listriknya, hanya 60% yang dibelinya, sisanya didapat dengan memanfaatkan kembali buangan uap panas, yang timbul dalam proses produksi, sehingga dapat menghasilkan daya listrik sendiri," tutur Darwin kepada detikFinance, Senin (31/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cara semacam ini menurut Ayer dan Ayer dalam buku mereka 'Crossing the Energy Divide' (terbitan Wharton School) akan ampuh sebagai jembatan transisi, mengatasi problem energi di dunia, sebelum upaya diversifikasi energi ke arah energi terbarukan yang kini sudah serius berjalan, mencapai tingkat massif untuk berpengaruh signifikan," papar Darwin.
Menurutnya, dengan besarnya peran dan invstasi energi fosil dalam khidupan dan proses produksi msyarakat, maka langkah yang signfikan untuk mengatasi problem energi haruslah berkaitan langsung dengan pemanfaatan energi fosil secara efisien.
"Khususnya, denga cara memanfaatkan limbah berupa panas, tekanan uap, ataupun gas yang timbul dari proses produksi," jelas Darwin.
Dikatakan Darwin mengutip buku Ayer, strategi pemanfaatan gas buang sebagai listrik sudah berjalan di beberapa negara. Di Denmark telah 50% perusahaan menggunakan listrik dari limbah tersebut. Di Belanda 39%, di Finlandia 37%, China 18%, dan AS masih terbatas 10%.
"Bagaimana di Indonesia? Kunjungan Tim ESDM ke Pabrik peleburan tembaga PT SM, di Surabaya Jumat kemarin, mendapati pabrik tersebut sudah memanfaatkan limbah uap panasnya untuk menghasilkan daya listrik sendiri, di samping menggunakn listrik dengan bahan bakar gas," kata Darwin.
"Pemerintah sedang mendata dan Insya Allah akan memberi penghargaan kepada perusahaan-perusahaaan dengan kepeloporan di bidang konservasi maupun diversifikasi energi semacam itu," tukas Darwin.
(dnl/qom)










































