"Kami memutuskan untuk mengembalikan keluarga dan sebagian besar ekspatriat keluar dari Libya. Prosesnya sedang berjalan," ujar juru bicara Total yang tak mau disebut namanya, seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/2/2011).
Namun juru bicara tersebut tidak menyebutkan berapa banyak ekspatriat Total yang ada di Libyam dan bagaimana orang-orang tersebut dievakuasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi minyak Total di Libya mencapai 55.000 bph atau sekitar 2,3% dari total produksi minyak Libya di 2010.
Hal serupa sebelumnya disampaikan BP, yang pada Senin kemarin sudah menyiapkan upaya evakuasi karyawannya dari Libya.
"Kami hanya melakukan monitoring situasi dan membuat persiapan untuk mengevakuasi beberapa keluarga dan beberapa staf yang tidak penting dalam 1 atau dua hari ke depan," ujar juru bicara BP.
BP tercatat memiliki 140 staf di Libya, sebagian besar ada di Tripoli. Dari jumlah tersebut, 40 diantaranya adalah ekspatriat. Beberapa dari staf yang akan dievakuasi adalah kru yang membuat persiapan pengeboran di kawasan Ghadames, sehingga persiapan pengeboran menjadi tertunda.
"Kami beberapa tahun jauh dari produksi, kami belum mengebor satu sumur pun," imbuh juru bicara BP tersebut.
Sementara perusahaan minyak asal Indonesia, PT Medco Energy International Tbk sebelumnya mengaku belum akan melakukan evakuasi karyawannya di sana. Medco melalui juru bicaranya, Sisca Alimin mengaku masih akan melakukan monitoring.
Libya merupakan salah satu anggota OPEC, dengan produksi termasuk terbesar keempat di Afrika setelah Nigeria, Aljazair dan Angola. Produksi minyak Libya ditargetkan mencapai 1,8 juta barel per hari (bph), dengan cadangan diperkirakan mencapai 42 miliar barel.
Di ladang hidrokarbon, 40 operator asing tercatat ikut berpartisipasi dalam lelang 4 tahap untuk eksplorasi minyak di Libya. Libya berniat menaikkan produksi minyaknya dengan menggelar lelang tersebut menjadi 1,8 juta barel per hari pada 2013 dengan investasi sekitar US$ 30 miliar.
Pada tahun 2009, Libya memroduksi sekitar 1,789 juta bph, Nigeria sebesar 2,211 juta bph, Aljazair sebesar 2,125 juta bph dan Angola sebesar 1,948 juta bph. Libya mengekspor sebagian besar minyaknya ke negara-negara Eropa termasuk Italia, Jerman, Spanyol, dan Prancis.
Seperti diketahui, situasi di Libya saat ini semakin tak terkendali. Para demonstran telah menguasai sejumlah pangkalan militer, senjata dan tank-tank tempur. Putra pemimpin Libya, Muammar Khadafi, Saif al-Islam Gaddafi pun mengingatkan, perang saudara di negeri itu akan menghancurkan kekayaan minyak Libya. Puluhan orang dikabarkan tewas karena situasi yang semakin memanas itu.
Krisis di Libya tersebut juga telah menyebabkan harga minyak terus melambung. Pada perdagangan di pasar Asia pagi ini, minyak Brent untuk pengiriman April naik lagi 1,21 dolar menjadi US$ 106,95 per barel. Minyak light sweet pengiriman Maret melonjak 6,45 dolar menjadi US$ 92,65 per barel. (qom/dnl)











































