"Kalau dibilang satu-satunya jalan, memang pilihan pemerintah tidak banyak di tahun ini," ujar Pri Agung Rakhmanto, Direktur Utama Reforminer Indonesia kepada detikFinance, Jakarta (4/3/2011).
Pri Agung menjelaskan, untuk kebijakan penggunaan energi alternatif sebagai upaya untuk mengatasi lonjakan harga minyak sudah terlambat. Maka itu pilihan yang ada sejauh ini hanya melakukan pembatasan atau menaikkan harga BBM Subsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan,Β dengan menaikkan harga Premium penghematan terhadap anggaran subsidi bisa sedikit lebih signifikan. ''Malah bisa tidak perlu menambah subsidi kalau sedikit dinaikkan harga Premiumnya,'' kata Pri Agung.
Mengenai masyarakat yang kembali berbondong-bondong menggunakan premium ketimbang BBM non subsidi seperti pertamax, Pri Agung menilai pemerintah tak bisa menyalahkan mereka mengingat kini selisihnya sangat besar. Sebagai catatan, harga pertamax di Jakarta mencapai Rp 8.100 per liter dan premium hanya Rp 4.500.
"Masyarakat tidak bisa disalahkan kalau pindah ke Premium terlepas mereka sebetulnya ada yang mampu membeli Pertamax atau tidak," ucapnya.
"Memang, Pak Menteri (Menteri ESDM) kan sempat bilang seharusnya masyarakat yang mampu jangan beli Premium. Itu imbauan yang baik, disamping mendorong masyarakat jelang rencana membatasi BBM Subsidi dan ingin lebih tepat sasaran. Tapi masyarakat nggak bisa disalahkan kalau mereka masih beralih ke Premium, sekarang harga BBM Non subsidi semakin tinggi,'' lanjut Pri Agung.
Dihubungi terpisah, pengamat perminyakan, Kurtubi mengatakan, kebijakan pembatasan atau mengatur BBM Subsidi dinilai tidak tepat. "Itu salah, lebih baik dibatalkan saja walaupun katanya nanti akan ditunda," katanya.
Secara sederhana, dirinya mengatakan bahwa lebih baik harga Premium Cs dinaikkan, ketimbang dibatasi.
"Masyarakat nggak bisa disalahi kalau masih ada yang beli BBM Subsidi, walau mungkin mereka bisa beli Pertamax. Tapi Pertamax (BBM Non Subsidi) kan mengikuti harga Pertamax, harga minyak dunia naik, dia pun ikut naik. Makanya, coba dinaikkan saja harga Premium sedikit, jadi biar mereka memilih bisa membeli Premium atau Pertamax tanpa perlu dibatasi," tukas Kurtubi.
(nrs/qom)











































