Meskipun per 7 Maret ICP sudah menyentuh US$ 113 per barel, namun menurut Darwin rata-rata ICP 12 bulan terakhir baru mencapai US$ 86,41 per barel.
"Untuk ICP semenjak Maret ini kan tadi sudah saya kasih tahu pas rapat (US$ 113). Nah, tapi rata-ratanya selama 12 bulan terakhir ini masih US$ 86,41. Ini kan masih berada di bawah penambahan 10% yang US$ 88 per barel," terang Darwin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi yang kita perhatikan adalah ini (harga rata-rata ICP). Maka itu kita harapkan, kalau harganya naik sampai US$ 115-US$ 116 per barel, rata-ratanya jangan sampai naik dari angka US$ 86,41," lanjutnya.
Darwin mengatakan, kenaikan minyak tertinggi adalah di level US$ 141 per barel di 2008. Pada saat itu rata-rata ICP sepanjang 12 bulan sampai menyentuh US$ 115 per barel.
"Semoga saja kalau sekarang tidak mengalami kenaikan terus," ucapnya.
"Jangan lupa sebagai tambahan, Saudi Arabia sejak 25 Februari memutuskan untuk nambah pasokan untuk menggantikan kekurangan pasokan dari Libya. Libya kan 1,6 juta, tapi sekarang tinggal 50%. Mungkin Saudi Arabia menambah 800 ribu barel sedangkan dari Kuwait sebanyak 200 ribu barel," lanjut Darwin.
Dirinya mengatakan dengan adanya pasokan tersebut, suplai masih lebih besar daripada permintaan. Dengan tambahan pasokan tersebut pula diharapkan harga minyak dunia dapat terkendali.
(nrs/dnl)











































