Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Tubagus Haryono di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (9/3/2011).
"Berkaitan dengan kejadian akhir-akhir ini, memang sempat ada unsur teknis. Untuk wilayah yang SPBU-nya sediakan pertamax namun premiumnya terlampaui (habis), disarankan supaya membeli pertamax terlebih dahulu. Sedangkan yang SPBU-nya belum ada pertamax sudah diinstruksikan kepada Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan gas) agar meminta supaya penuhi BBM premium bagi konsumen dan segera laporkan ke BPH Migas," kata Tubagus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BPH Migas mengkomunikasikan kepada pemerintah terkait kuotanya. Di Pemda pun juga akan kami kami komunikasikan, serta alokasi BBM akan dikomunikasikan ke tiap Kabupaten dan Kota," ucapnya.
Terkait adanya kelangkaan BBM di beberapa wilayah yang disinyalir muncul akibat adanya penimbunan, pihak BPH Migas berjanji untuk mengintensifikasikan operasi penegakkan hukum jikalau memang ada usaha penyalahgunaan.
"Kita akan intensif untuk menjalankan operasi penegakkan hukum. Kalau ada usaha ke situ (penimbunan, dan sebagainya) kita akan ambil tindakan," terangnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, daerah yang mengalami kelangkaan BBM seperti Pontianak diakibatkan karena adanya kendala berupa karamnya kapal pengangkut BBM. Terganggunya distribusi pun tidak terhindarkan.
"Untuk daily output di Pontianak, biasanya sebesar 900 KL (kiloliter). Namun sekarang kita sudah mendistribusikan sebesar 1.200 KL. Stok yang saat ini sebesar 1.500 KL akan ditambah hingga 2.600 KL," kata Karen.
"Sesuai dengan instruksi dari BPH, jika ada SPBU yang tidak ada pertamax maka premium akan terus didistribusikan sesuai dengan kebutuhan normal," lanjut Karen.
(nrs/dnl)











































