Hal ini disampaikan oleh Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ebita Herawati Legowo seusai menghadiri rapat kerja dengan Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (10/3/2011).
"Kan kalau dinaikkan, berarti semua orang mengalami kan. Kami gak ingin orang yang berhak dapat subsidi mengalami kenaikan, jadi harus tetap gitu harganya nggak boleh naik," kata Evita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, ketika ditanya apakah akan ada kemungkinan kenaikan harga BBM mengingat harga minyak dunia diprediksi naik, Evita tetap mengatakan tidak akan ada kenaikan harga BBM.
"Harga minyak dunia tergantung di Libya dan kita masih terus mengevaluasi ICP (Indonesia crude price)," singkatnya.
Dia mengatakan, kuota atau jatah penyaluran BBM subsidi ke daerah-daerah akan disesuaikan dengan kebutuhan normal.
"BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi) serta Pertamina kan sudah punya normalnya (jatah kuota normal yang ditetapkan). Kalau normalnya terpenuhi dan ternyata melebihi, berarti something's wrong kan?," tutur Evita.
Dia menengarai, jatah BBM yang ditetapkan sudah mencukupi, dan ketika kuota melebihi berarti ada spekulan, penimbunan, atau sesuatu yang tidak benar terjadi.
"Sudah cukup kok, makanya BPH Migas kan bekerjasama dengan intansi terkait untuk lakukan penegakkan hukum kalau ada indikasi ke arah yang tidak benar," jelasnya.
"Kita juga sarankan, kalau ada lokasi di mana, suatu daerahlah misalnya, yang punya pertamax dan premium. Kalau premiumnya habis diarahkan supaya beli pertamax untuk hari itu. Karena kan besok paginya sudah ada lagi premiumnya," lanjut Evita.
(nrs/dnl)











































