Mustafa: Kalau Swasta Tak Berani, BUMN Siap Garap Listrik Panas Bumi

Mustafa: Kalau Swasta Tak Berani, BUMN Siap Garap Listrik Panas Bumi

- detikFinance
Jumat, 11 Mar 2011 17:33 WIB
Jakarta - BUMN siap mengambil peran untuk mengembangkan listrik panas bumi di Indonesia, jika swasta belum berani masuk.

Demikian disampaikan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar, usai acara penandatanganan perjanjian jual beli listrik panas bumi antara pihak PLN dengan Pertamina dan PT Westindo Utama Karya di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Jumat (11/3/2011).

Seperti diketahui, dari enam perjanjian jual-beli listrik panas bumi yang dilakukan PLN, lima di antaranya diambil melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digarap Pertamina Geothermal Energi (anak perusahaan Pertamina). Sedangkan satu sisanya oleh pengembang swasta yakni PT Westindo Utama Karya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seperti yang diketahui, proses proyek geothermal ini alot. Tadinya ada 32 item yang dirundingkan, termasuk salah satunya masalah harga. Maka itu, untuk ini dari selain pihak swasta kan baru satu pihak yang minat, selesai, dan berani," ujar Mustafa.

Karena itu, lanjut Mustafa, jika swasta belum berani maka BUMN harus maju mengambil peran. Apalagi di sektor kelistrikan yang menyangkut kepentingan banyak pihak.

"Ini salah satu peran keperintisan BUMN, kalau swasta belum berani, BUMN bisa maju di sini," ucapnya.

"Kalau pihak swasta merasa banyak kendala, BUMN siap sedia untuk mempersiapkan diri ambil peran. Seperti proyek jalan tol misalnya, kita memiliki Jasa Marga kan. Begitu juga dengan pengembangan geothermal ini. Kita kan ada BUMN khusus geothermal (panas bumi), yakni Geodipa," terang Mustafa menambahkan.

Mustafa mengatakan, pemgemnbangan listrik geothermal ini dilakukan berdasarkan arahan Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Di 2012 ditargetkan listrik panas bumi mencapai 2.000 MW dan di 2014 bisa mencapai 5.000 MW.

Di tempat yang sama, Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh mengatakan dirinya bersyukur BUMN ingin mengambil peran. Mengingat ke depannya pertumbuhan masyarakat akan bergerak maju sehingga kebutuhan listrik makin besar.

"Ke depannya, saya juga mengharapkan agar porsi swasta untuk ini bisa mencapai 30-40%. Kalau ini kurang cepat, sedangkan kebutuhan listrik terus tumbuh maka itu BUMN dapat mengisi ruang agar menumbuhkan minat dan keberanian mengambil risiko bagi investor swasta," tuturnya.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads