RI Dinilai Tetap Butuh PLTN dalam Jangka Panjang

RI Dinilai Tetap Butuh PLTN dalam Jangka Panjang

- detikFinance
Selasa, 15 Mar 2011 12:48 WIB
RI Dinilai Tetap Butuh PLTN dalam Jangka Panjang
Jakarta - Krisis nuklir yang terjadi akibat ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang membuat trauma tak hanya masyarakat Jepang tapi juga masyarakat di seluruh dunia akan bahaya nuklir.

Namun hal berbeda disampaikan oleh Presiden Direktur Supreme Energy Supramu Santosa. Dia mengatakan, PLTN tetap dibutuhkan oleh Indonesia dalam jangka panjang.

"UNtuk PLTN ini harus ada edukasi dulu ke masyarakat. Memang sejauh ini PLTN sudah bikin takut karena kejadian di Jepang, banyak yang trauma," kata Supramu saat ditemui di seminar energi yang dilakukan di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (15/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Supramu mengatakan, PLTN yang digunakan di Jepang seperti di Fukushima memakai teknologi lama.

"Dari beberapa yang saya dengar dari expert (ahli), ada teknologi pembangkit nuklir yang lebih aman sekarang Karena itu dalam jangka panjang harus dipikirkan. Pokoknya memang harus dipikirkan, namun dalam jangka pendek kita belum bisa karena belum ada kesiapan," tutur Supramu.

Lain lagi Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), Luluk Sumiarso. Dia mengatakan, saat ini Indonesia lebih baik mengembangkan listrik dengan pembangkit bertenaga panas bumi.

"Kita sekarang punya panas bumi yang potensinya paling besar di dunia. Kalau pemakaiannya baru nomor tiga di dunia. Lebih baik kita pikirkan optimalisasi panas bumi dan bioenergi," tukas Luluk.

Saat ini pembangkit listrik di Indonesia masih banyak yang menggunakan BBM sehingga harganya mahal. Mesti diakui pembangkit nuklir lebih murah dibanding dengan BBM.

Berikut kira-kira biaya produksi listrik berdasarkan bahan bakar pembangkit:
  • Pembangkit bertenaga air 5 sen per kwh
  • Pembangkit batubara 6,5 sen per kwh
  • Pembangkit gas 8,2 sen per kwh
  • Pembangkit geothermal 8,5 sen per kwh
  • Pembangkit nuklir 150 sen per kwh
  • Pembangkit BBM 200-300 sen per kwh
  • Pembangkit matahari (surya) 1.500-3.000 sen per kwh
Β 
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads