Pada perdagangan Senin (4/4/2011) di pasar Asia, minyak light sweet pengiriman Mei naik 72 sen menjadi US$ 108,66 per barel. Harga ini melampaui penutupan Jumat akhir pekan lalu di level US$ 107,93 per barel, yang merupakan tertinggi sejak September 2008.
Minyak Brent pengiriman mei juga menguat 40 sen menjadi US$ 119,10 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepertinya faktor permintaan menyebabkan kenaikan harga, khususnya angka non-farm payrolls yang mencapai 216.000 lapangan kerja pada Maret sehingga sedikit menurunkan angka pengangguran," ujar Ben Westmore, ekonom mineral dan energi untuk National Australia Bank seperti dikutip dari AFP.
"Saya akan mengatakan turunnya tingkat pengangguran tidak diperkirakan pasar sehingga mungkin memberikan sedikit kenaikan harga minyak," imbuh Westmore.
Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan tingkat pengangguran di negara konsumen minyak terbesar dunia itu mencapai 8,8% selama Maret.
"Sejak November 2010, tingkat pengangguran sudah turun 1% poin," ujar Depnaker AS.
Westmoer mengatakan, pialang dalam beberapa sesi terakhir telah memperhitungkan gangguan suplai konflik di Libya, namun ia mengingatkan harga bisa naik lagi jika konflik menyebar ke negara lain.
"Yang penting kedepan adalah setiap berita tentang menyebarnya konflik ke negara lain. Hal itu akan menjadi hal yang belum direfleksikan dalam harga dan bisa menyebabkan harga naik lagi," imbuhnya.
(qom/dnl)











































