Demikian disampaikan oleh Rudi Rubiandini selaku Sekretaris Pimpinan BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas) dalam diskusi 'Memacu Lifting Melalui Pengelolaan Sumur Tua' yang diadakan di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (20/4/2011).
"Jadi kalau ditanya target dari sumur tua? Nihil. Terlalu kecil nggak bisa mendongkrak target produksi," kata Rudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemampuan tahun ini bisa menghidupkan 100 sumur tua saja sudah bagus. Kalau BUMD mau kelola dan tidak mampu, bisa diserahkan ke KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama), Pertamina misalnya. Tapi harus menyiapkan work over rig," ucapnya.
Dikatakan olehnya, menyiapkan workover rig membutuhkan biaya. Selain itu banyak juga pihak swasta yang memiliki work over rig namun lebih memilih digunakan untuk pengerjaan pada lahan migas yang bagus, ketimbang untuk sumur tua.
"Kita belum punya, di Indonesia, alat-alat perkakas yang digunakan untuk pengelolaan migas yang made in Indonesia, katanya kita punya PAL, Pindad, dan sebagainya, tapi buat rig saja kok nggak bisa," katanya.
Lanjutnya, pengelolaan migas di Indonesia sendiri kurang mumpuni, sehingga Indonesia masih harus mengimpor minyak dari luar negeri. Tak hanya sampai situ, alat-alat migas pun semua diimpor.
"Kita banyak yang ahli, bahkan di luar negeri pun ada. Tapi secara bisnis, semua peralatan seperti logging tools, alat seismik dan sebagainya dari luar semua (impor). Sudah dari luar, uangnya pun juga minjam dari luar," timpalnya sekali lagi.
Maka itu, dikatakan olehnya, jika sumur tua ingin digalakkan untuk meningkatkan target produksi hal tersebut masih sulit. Sehingga belum bisa menutupi kekurangan yang ada (target produksi dan lifting minyak RI).
"Sekarang satu sumur tua saja cuma 3 barel per hari. Kalau 100 sumur hanya 300 barel per hari. Sumur tua juga belum tentu ada barangnya (minyak)," tanggapnya.
Hal senada juga diutarakan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Pri Agung, selaku pihak penyelenggara diskusi ini. Pri Agung menyampaikan memang benar sumur tua sulit untuk meningkatkan produksi migas.
"Iya, memang sumur tua sulit karena secara teknis sulit dan secara ekonomi tidak menguntungkan. Artinya, dia bukan bagian dari portofolio kontraktor migas besar, jadi mereka lebih memilih lahan-lahan yang potensinya jauh lebih besar," ucap Pri Agung.
Seperti diketahui, pada APBN 2011 pemerintah merencanakan kejar target produksi minyak sebesar 970 ribu barel per hari.
Namun dengan alasan unplanned shutdown, peralatan tua, ditambah cuaca yang tidak menentu, target pencapaian saat ini baru mencapai 911 ribu barel per hari. Angka tersebut masih jauh dari harapan yang diinginkan.
(nrs/dnl)










































