Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Firmanzah ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Minggu (1/5/2011).
"Bisa saja menjual harga pokoknya, tetapi harganya tidak setinggi pertamax," kata Firmanzah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Premium sudah menjadi urat nadi perekonomian. Penghapusan akibatnya dapat merembet ke persoalan sosial dan ekonomi," katanya.
Firmanzah menambahkan, wacana yang dicetuskan Menteri Keuangan seharusnya dijadikan rencana jangka panjang. Untuk saat ini, solusi yang baik adalah menaikan harga premium secara bertahap.
"Rencana Pak Agus itu dalam jangka panjang, sekarang itu bertahap saja dinaikan," tuturnya.
Imbauan pemerintah, lanjut Firmanzah, untuk menggunakan bahan bakar pertamax juga dinilai tidak terlalu efektif. Belum tentu pengguna kendaraan pribadi mengikuti ajakan pemerintah tersebut.
"Mengajak kan belum tentu mengharuskan, praktiknya akan sangat sulit di lapangan," katanya.
Firmanzah juga mengimbau agar pemerintah mau memasukan mobil yang irit BBM ke Indonesia agar masyarakat Indonesia dapat mengganti mobil yang boros BBM menjadi mobil irit BBM.
"Instrumen lain, memberi pajak 0% untuk mobil listrik. Jadi, masyrakat bisa ganti dari mobil pemakan bensin jadi irit bensin," katanya.
Seperti diketahui, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan pemerintah akan menghapus BBM jenis premium dan juga tidak akan memberikan subsidi untuk Pertamax. Kapan waktunya, masih sangat tergantung dengan koordinasi kementerian energi sumber daya mineral (ESDM) dan DPR.
(dru/dru)











































