BBM Murah Dorong Masyarakat Manja dan Konsumtif

BBM Murah Dorong Masyarakat Manja dan Konsumtif

- detikFinance
Kamis, 19 Mei 2011 14:13 WIB
BBM Murah Dorong Masyarakat Manja dan Konsumtif
Jakarta - Murahnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnya membuat masyarakat Indonesia menjadi manja dan konsumtif. Hal itu juga yang mendorong semakin bertambah banyaknya jumlah kendaraan pribadi di Indonesia.

"Di beberapa negara, seperti Laos atau Kamboja, waktu saya pernah ke sana, itu harga BBM-nya US$ 1 per liter. Itu Oke," kata anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman D. Ibrahim dalam seminar acara The 35th IPA Annual Convention and Exhibition di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, Kamis (19/5/2011).

Menurut Herman, masyarakat di Laos dan Kamboja umumnya lebih memilih untuk jalan kaki untuk beraktivitas sehari-hari ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. "Karena banyak jalan kaki, bentuk kendaraannya makin kecil," lanjut Herman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan, kata Herman, dengan harga BBM yang semakin murah jumlah kendaraan semakin banyak dan besar-besar. Hal ini lah yang sudah terjadi di Indonesia.
"Di sini (Indonesia), kendaraan makin besar dan banyak karena harga minyak (BBM) yang dijual sangat murah. Karena murah bahan bakarnya, makanya kita kalau mau makan dari Jakarta naik kendaraan ke Bandung bisa," ungkap Herman.

Ditempat yang sama Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Evita Herawati Legowo mengingatkan agar masyarakat mampu jangan menggunakan Premium. BBM Premium diperunttukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

"Tolong juga jangan gunakan premium lagi..yang di ruangan ini," tegasnya sembari disusul tawa dan tepuk tangan.

Dirinya mengatakan, permasalahan subsidi BBM merupakan hal yang sulit untuk diatasi. Hal tersebut, menurutnya tidak hanya menyangkut segi teknis namun juga segi politis.

Evita juga menyatakan, seiring sulitnya menyelesaikan permasalahan subsidi tersebut, pihaknya berusaha untuk tidak depresi. Mengatasi permasalahan subsidi, kita ada dua faktor. Yakni sisi volume dan harga. "Jangan jadikan ini sebagai tahun depresi," imbuhnya.

Dari segi volume, lanjut Evita, pihaknya merencanakan untuk memformulasikan target yang cocok bagi penerima subsidi. Menurut UU, yang pantas menerima subsidi adalah yang tidak mampu.

"Kita sudah banyak rencana untuk itu, mekanismenya harus dari kami (Ditjen Migas), lalu ke Kementerian ESDM, ke Kabinet, dan ke DPR," jelas Evita.

Evita menegaskan, bahwa pihaknya berusaha untuk melihat siapa yang pantas menerima subsidi. Kemudian, dari sisi harga, pemerintah ingin membuat sadar bahwa harga minyak tidak pernah tetap.

Selain itu, anggota Komisi VII dari fraksi Golkar Satya W Yudha menambahkan pemerintah perlu mengatur subsidi agar bisa tepat sasaran.

"Dua per tiga dari pendapatan sektor migas nasional, kita habiskan untuk subsidi. Baik itu listrik dan energi," imbuhnya.

Terkait harga minyak dunia dan juga ICP (Indonesian Crude Price/Harga Minyak Indonesia) yang sejauh ini masih cenderung tinggi, Satya mengingatkan agar pemerintah menaikan harga BBM Premium. Mengingat disparitas harga antara Pertamax dan Premium semakin melebar.

"Pemerintah sudah bisa menaikkan harga, jika ICP berada di atas 10% dari asumsi makro US$ 80 per barel," lanjut Satya.

(nrs/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads