Hal ini disampaikan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan dalam rapat dengar pendapat dengan anggota Komisi VII DPR yang dilakukan di Gdung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2011).
"Saya harapkan karena WMO (West Madura Offshore) lebih mudah dari ONWJ (Offshire North West Java), jadi kita targetkan di 2015 produksi sekitar 50.000-an bph," kata Karen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kesiapan Pertamina untuk kelola blok offshore (lepas pantai), memang akuisisi ONWJ itu untuk training, kalau Pertamina tidak dikasih kesempatan, maka tidak akan pernah bisa mengelolanya. Kalau tidak dikasih kita tidak akan bisa," lanjut Karen.
Seperti diketahui, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh memutuskan untuk menyerahkan 80% saham di blok migas West Madura kepada PT Pertamina (Persero). Sementara perusahaan migas asal China yaitu CNOOC mundur.
Melalui hal tersebut, maka Pertamina menjadi operator utama untuk pengelolaan blok migas tersebut. Dalam beberapa pemberitaan terkait sebelumnya, produksi minyak yang ada di West Madura dikatakan terus menurun seiring akan berakhirnya kontrak yang sebelumnya ditetapkan.
Setelah menjadi operator di blok tersebut, Pertamina menjanjikan pihaknya dapat menaikkan produksi yang tadinya turun 12-14 ribu barel per hari menjadi 30 ribu barel per hari.
"Sejak 7 Mei 2011 lalu, Pertamina memang sudah jadi operator (di blok West Madura). Yang penting blok itu ada yang mengoperasikan dan tidak turun operasinya, itu yang kami jaga," tukas Karen.
(nrs/dnl)











































