Hal ini menjadi salah satu poin kesepakatan dalam rapat kerja pembahasan asumsi makro sektor ESDM di 2012 yang dilaksanakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/6/2011).
"Tambahan subsidi untuk bahan bakar, bila harga BBN lebih tinggi dari harga BBM," kata Teuku Riefky Harsya, selaku Ketua Komisi VII DPR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biodiesel
Rp 2.500-Rp 3.000 per liter
Bioethanol
Rp 3.000-Rp 3.500 per liter
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi KESDM, Evita Herawati yang turut hadir dalam rapat kerja tersebut menyampaikan, kondisi realisasi BBN saat ini memang tidak signifikan.
"Namun, untuk ketahanan energi ini perlu kita pertahankan dan kita sama-sama melihat mengapa kok tidak signifikan realisasinya," tanggapnya.
Dilanjukan olehnya, bahwa hal tersebut diakibatkan subsidi untuk BBN hanya Rp 2.000 per liter. Hal tersebut menyebabakan produsen BBN lebih cenderung untuk memproduksi untuk ekspor ke luar negeri.
"Oleh karena itu kami usulkan, untuk kali ini sesuai dengan kondisi yang ada untuk dapat menggiatkan produsen dalam negeri demi memenuhi kebutuha domestik. Yakni, dengan memberikan subsidi lebih besar dari Rp 2.000 per liter," terang Evita.
Seperti diketahui, subsidi BBN sejauh ini masih dirasa belum sesuai. Sehingga, realisasi maupun pasokan terhadap bahan bakar yang terbarukan tersebut menjadi tidak signifikan.
Misalnya, seperti yang dijelaskan Evita sebelumnya, bahwa untuk BBN jenis Bioethanol diusulkan agar nilai subsidinya besar mencapai Rp 3.500 per liter. Mengakibatkan produsen lebih memilih untuk menjual bahan bakunya kepada pihak farmasi yang berani membayar lebih mahal.
(nrs/dnl)











































