Demikian disampaikan Karen Agustiawan, selaku Direktur Utama Pertamina dalam rapat dengar pendapat dengan Anggota Komisi VI DPR RI, Jakarta, Selasa malam (22/6/2011).
"Untuk harga BBM, karena harga alphanya fix, sementara harga minyak dunia meningkat, sampai April 2011 kita merugi sebesar Rp 500 miliar," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karen memperkirakan, Pertamina bakal merugi hingga Rp 1,6 triliun jika saja tidak ada perubahan harga minyak dunia yang relatif masih tinggi. Padahal dalam RKAP 2011, Pertamina mengincar keuntungan Rp 760 miliar.
"Kita perkirakan akan rugi sampai Rp 1,6 triliun," terangnya.
Menganggapi hal tersebut, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Djaelani Sutomo mengatakan bahwa Penjualan BBM bersubsidi meningkat diakibatkan adanya permintaan yang terus meningkat.
"Selain itu, wacana pemerintah untuk melakukan pengaturan BBM bersubsidi juga belum dijalankan," tambah Djaelani.
Ia menambahkan, pemakaian Solar juga meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi di daera yang mengakibatkan banyak beroperasinya kendaraan industri yang masih mengisi Solar subsidi di daerah-daerah industri, ditambah meningkatnya permintaan Solar untuk usah perikanan.
Seperti diketahui, kerugian Pertamina ini meningkat Rp 100 miliar, dibandingkan triwulan I ketika Pertamina mengalami kerugian sebanyak Rp 400 miliar untuk penjualan BBM Bersubsidi.
(nrs/qom)











































