Demikian hal tersebut disampaian oleh Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Djaelani Sutomo dalam rapat dengar pendapat bersama anggota Komisi VI DPR RI, Jakarta, Selasa malam (21/6/2011).
"Peningkatan cost elpiji yang tidak diimbangi dengan peningkatan atau penyesuaian harga jual, terutama di 12 kg yang belum mencapai harga keekonomiannya," terang Djaelani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Realisasi YTD (Year To Date) April 2011, kerugian sudah di atas target RKAP April 2011 sebesar 37%. Hal ini diakibatkan karena banyak konsumen yang lebih nyaman menggunakan LPG 12 kg, selain karena dianggap lebih aman dari LPG 3 kg, juga karena harganya yang sudah dianggap tidak terlalu mahal," ucap Djaelani.
Sampai April 2011 tersebut, realisasi volume untuk penjualan LPG non PSO (Non Subsidi) tersebut sudah mencapai 0,38 juta MT (Metric Ton). Hal tersebut sudah mencapai 127% dari RKAP April 2011 yang dipatok sebanyak 0,30 juta MT (RKAP 2011 sebesar 0,90 juta MT).
"Di 2010, untuk LPG Non PSO, kita rugi sebesar 3,24 triliun. Itu untuk LPG yang 12 kg dan 50 kg. Maka, kita perkirakan sampai akhir tahun bisa merugi hingga Rp 3,6 triliun," kata Karen Agustiawan, selaku Direktur Utama Pertamina menambahkan hal tersebut.
Terkait penjualan Gas Elpiji 3 kg, lanjut Karen, Pertamina mencatat keuntungan Rp 1,14 triliun per April 2011. Pihak Pertamina sendiri, untuk penjualan tabung hijau tersebut, mengincar keuntungan hingga Rp 1,32 triliun sampai akhir tahun 2011 (sesuai dengan RKAP 2011).
"Untuk LPG PSO, di gas 3 kg kita tidak merugi. Realisasi April di atas target base karena kegiatan refill LPG PSO 3 kg yang didukung oleh penambahan pengguna LPG 3 kg melalui program konversi di 2011," tanggap Karen.
(nrs/ang)











































