Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan, mal itu sudah seharusnya menghemat energi listrik dari PLN dan mengunakan listrik tenaga matahari.
"Saya kira itu kalau mal itu golongan mampu. Kita yang pikirkan bagaimana orang yang tidak pernah, atau golongan yang tidak pernah memanfaatkan listrik. Bukan karena dia tidak ada listrik tapi dia rumah saja nggak punya, itu yang harus dipikirkan," kata Kardaya usai pelantikan dirinya di kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lagi pikirkan mengeluarkan mandatori, katakanlah kalau ini nggak bisa, saya mendengar dari sisi pengusaha mal, tapi yang kita dengarkan itu kepentingan nasional yang lebih besar," jelas Kardaya.
Padahal Kardaya menjelaskan. atap-atap lebar mal itu seharusnya bisa digunakan untuk pemasangan sistem listrik tenaga matahari. Sehingga nantinya pemakaian listrik dari PLN berkurang.
Selain mal, penggunaan listrik industri juga harus dihemat. Karena jika dibandingkan, penggunaan listrik industri di negara seperti Malaysia, Thailand, Eropa, dan Jepang sudah cukup efisien.
Kemudian, Kardaya juga mempunyai pemikiran untuk mengganti lampu-lampu penerang jalan di Indonesia dengan lampu hemat energi atau listrik dengan menggunakan tenaga matahari.
"Tol dari Jakarta ke Bandung sebagian sudah di pasang. Ini penting bagi Pemda, karena misalnya di Jakarta listriknya pakai solar maka para turis melihat Jakarta lebih bersih udaranya," katanya.
Sebelumnya, pihak PLN mengakui pemakaian listrik di pusat-pusat perbelanjaan atau mal sangat besar. Di Jakarta, konsumsi listrik sebuah mal bisa sampai mencapai 40 megawatt (MW).
Pengelola mal dan pusat perbelanjaan mengakui besarnya konsumsi listrik yang dikeluarkan. Dalam sebulan, tagihan listrik yang harus dibayar oleh sebuah mal bisa mencapai Rp 4-5 miliar.
(dnl/hen)











































