Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengatakan, dua kali nama PLN disenggol dalam kaitan dengan Nazaruddin. Pertama PLN dikaitkan dengan tender batubara yang membuat Nazaruddin bertengkar dengan partner bisnisnya. Kedua, PLN disebut dalam kaitan dengan tender proyek PLTU Kaltim/Riau.
"Saya senang dua hal itu disebut-sebut. Pertama saya bisa numpang ngetop sebentar. Kedua, saya memiliki momentum untuk mengkampanyekan PLN baru," jelas Dahlan dalam pernyataannya yang dikutip, Kamis (28/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daniel, lanjut Dahlan, sebenarnya benar-benar menang tender. Bukan karena ada Nazaruddin di dalamnya. Tender itu dilakukan dengan sistem lelang, sehingga tidak ada peluang untuk diatur sama sekali.
"Semua orang tahu system auction itu begitu transparansinya sehingga sangat kecil peluang untuk terjadi permainan. Daniel menang tender karena penawaran harganya memang sangat-sangat rendah," kata Dahlan.
Bahkan saking rendahnya, Daniel kesulitan mencari batubara yang baik dengan harga yang masih bisa memberikan keuntungan baginya. Maka batubara yang dikirim ke PLN pun batubara yang murah dan tentu tidak memenuhi kualitas yang ditentukan PLN.
"Yang hebat, petugas PLN di lapangan berani menolak batubara ribuan ton tersebut. Akibat batubara Daniel ditolak oleh PLN, Daniel tidak mendapatkan uang dari PLN. Karena itu Daniel juga tidak bisa mengembalikan uangnya Nazaruddin. Nazaruddin pun kehilangan uang puluhan miliar rupiah gara-gara ketegasan PLN," katanya.
Kata Dahlan, seandainya petugas PLN takut kepada Nazaruddin dan menerima begitu saja batubara yang jelek itu tentu Nazaruddin bisa menyelamatkan uangnya yang puluhan miliar itu. Namun karena batubaranya ditolak maka lenyapkan uangnya yang sangat besar itu.
"Dalam hal ini saya bangga dengan petugas PLN di barisan paling depan tersebut. Seandainya pegawai PLN tersebut bisa disogok tentu semuanya beres. Toh batubara jelek itu sebentar lagi sudah tercampur dengan batubara ribuan ton lainnya. Tidak akan gampang ketahuan. Tentu saja saya bangga dengan pegawai PLN di bagian penerimaan batubara itu. Saking bangganya sampai-sampai di DPR saya berseloroh, kalau saja petugas itu seorang wanita akan langsung saya ciumi dia!" tukas Dahlan.
Sementara soal tender PLTU Kaltim/Riau yang disebut oleh Nazaruddin, Dahlan mengatakan dia tidak bisa menemukan di mana akal-akalan proyek ini terjadi.
"Tender tersebut dimenangkan oleh konsursium PT Adhikarya (Kaltim) dan konsorsium Rekayasa Industri (Riau). Sudah saya cek berulang-ulang bahwa proses tender sangat bersih dan professional. Sampai-sampai teman terbaik saya yang telah berjasa menyelamatkan hidup saya kalah di tender ini," tukas Dahlan.
(dnl/qom)











































