Pertamina 'Boyong' 70.000 Tabung Elpiji ke Lombok

Pertamina 'Boyong' 70.000 Tabung Elpiji ke Lombok

- detikFinance
Kamis, 11 Agu 2011 13:27 WIB
Mataram - Pertamina berupaya mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg di Lombok yang telah menyebabkan harga melambung sejak awal Ramadan. Selama dua hari terakhir, Pertamina mendatangkan tak kurang dari 70 ribu tabung gas elpiji yang sudah terisi dari Jawa Timur dan Bali.
 
"Kita datangkan 50 ribu tabung dari Jawa Timur, itu sudah sampai dan kita mulai distribusikan ke agen untuk diantar ke pangkalan dan pengecer. Sebanyak 20 ribu tabung lagi kita datangkan dari Bali dan sedang dalam perjalanan," kata Arsono Kuswardanu, General Manager Produk Gas Pertamina Region V, di Mataram, Kamis (11/8/2011).
 
Tabung-tabung itu diangkut menggunakan truk dan disimpan di areal terbuka, di Desa Sandik, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat yang disulap Pertamina menjadi gudang sementara, sebelum didistribusikan.
 
"Harusnya dengan pasokan ini, harga bisa stabil kembali," kata Arsono.
 
Saat ini, harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer di beberapa titik di Mataram sudah tembus hingga Rp 20.000, jauh melampaui harga eceran tertinggi Rp 12.750. Kendati mahal, elpiji 3 kg susah didapat.
 
Sebanyak 70 ribu tabung elpiji yang didatangkan Pertamina diisi di depo pengisian di Surabaya dan Denpasar. Di Lombok, saat ini hanya ada satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) dengan kapasitas terbatas. Padahal penerima paket konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kg di Lombok sudah mencapai 425.603 kepala keluarga dari target 679.017 kepala keluarga.
 
Menurut Harsono, sejak awal Ramadan, permintaan elpiji terus meningkat tajam yang ditengarai menjadi pemicu kelangkaan dan melambungnya harga. Saat ini rata-rata tiap hari, permintaan mencapai 31 ton.
 
Untuk menggenjot pasokan, Pertamina juga sudah meminta satu-satunya SPBE di Lombok melayani pengisian tabung hingga tengah malam pukul 24.00 Wita sejak pukul 07.00 Wita pagi.
 
Selain itu, Pertamina juga membantu penambahan armada angkut milik SPBE dengan kapasitas 3 x 13 ton, melengkapi kapasitas armada angkut sebelumnya sebesar 97,7 ton. Armada ini mengangkut elpiji dari terminal elpiji Manggis, di Denpasar. Armada beroperasi bolak-balik sepanjang hari.
 
"Dengan ini kami yakin, harga akan turun hingga di bawah Rp15.000 sehingga bisa terus ditekan menuju harga normal. Kami yakin, sampai Ramadan usai, persediaan elpiji si Lombok aman," kata Arsono.
 
Dihubungi terpisah, pengamat energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria mengingatkan pemerintah daerah untuk memonitor distribusi elpiji bersubsidi, karena tidak menutup kemungkinan ada spekulan yang ingin meraup untung.
 
"Kewenangan pengawasan itu tidak ada di Pertamina. Itu adanya di pemerintah daerah. Jangan sampai ada yang nimbun, sehingga menambah kelangkaan sehingga harga melambung," kata Sofyano.
 
Mengenai banyaknya warga yang takut menggunakan elpiji, menurut Sofyano, itu akan hilang seiring edukasi dan sosialisasi yang baik. Penelitian yang dilakukan PUSKEPI sejak tahun 2006, ketika program konversi elpiji 3 kg diluncurkan, kasus ledakan hanya 273 dari 53 juta tabung elpiji yang sudah didistribusi di seluruh Indonesia.
 
"Jadi sangat kecil. Bandingkan dengan angka kecelakaan pesawat terbang yang mencapai tiga persen, padahal menggunakan teknologi canggih. Memang butuh waktu untuk mengubah kebiasaan masyarakat," katanya.
 
Pantauan detikFinance di sejumlah pengecer di Kota Mataram, ada beberapa pengecer yang mengaku sudah tidak mendapat pasokan elpiji sejak awal Ramadan. Beberapa pengecer di Pagesangan, Kecamatan Sekarbela, bahkan di atas tumpukan tabung kosong masih memajang pemberitahuan dengan tulisan sederhana, "GAS HABIS".

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads