Demikian disampaikan Muhamad Husen selaku Direktur Hulu Pertamina dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jakarta, Selasa (18/10/2011).
"Dengan potensi raksasa seperti itu, saya sangat mendukung operasionalnya agar lebih dipercepat. Karena kita tahu bahwa shale gas merupakan gas baru bagi Pertamina," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya mengaku, membutuhkan waktu lama bagi Indonesia untuk mengembangkan shale gas. Didukung pula dengan pihak Pertamina yang masih dalam tahap pencarian yang merupakan tahap awal.
"Ini merupakan project pertama untuk mencari lokasi mana saja yang terdapat shale gas. Mungkin 10 tahun ke depan Pertamina baru bisa merasakan hasil produksi shale gas tersebut," ujarnya.
Husen menambahkan, bahwa shale gas di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dibandingkan dengan potensi gas konvensional.
"Secara hitungan kasar saja, bisa digambarkan dari angka resmi Dirjen Migas, yaitu 170 TCF untuk konvensional gas, sedangkan untuk shale gas sendiri diperkirakan mencapai 1.000 TCF. Katakanlah hanya 10% dari 1.000 itu saja sudah besar sekali dibandingkan dengan cadangan gas konvensional di Natuna yang sebesar 40 TCF. Ini luar biasa," kata Husen.
Dengan itu, melalui pengembangan shale gas oleh Pertamina, pihaknya bisa mendapatkan tambahan cadangan gas sebesar 100 TCF di masa datang.
Cadangan terbukti (Proven Reserve P1) minyak dan gas Pertamina saat ini sebesar 2,12 miliar barel oil equivalen (BOE) yang terus dilakukan upaya percepatan eksplorasi. Husen berharap di 2014 nanti cadangan migasnya mencapai 2,27 miliar BOE.
"Pertamina EP sendiri telah melakukan identifikasi secara keseluruhan berdasarkan dari studi dan referensi. Dari sekian banyak wilayah kita perkecil lagi jadi empat wilayah yang akan diperdalam. Seperti dicekungan Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat bagian Utara, dan Sangatta Bungalon. Dari empat wilayah tersebut akan diperkecil lagi, karena banyak sekali tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan eksplorasi," jelas Husen.
Seperti diketahui, shale gas merupakan gas yang didapat dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Proses yang dibutuhkan untuk mengubah batuan shale menjadi gas membutuhkan waktu hingga lima tahun.
(nrs/ang)











































