Sejak 1998, Belum Ada Investor Berani Bangun Kilang di RI

- detikFinance
Kamis, 15 Des 2011 17:19 WIB
Jakarta - Entah ada persoalan apa, sejak 1998 belum ada investor yang merealisasikan rencananya untuk membangun kilang di Indonesia. Padahal Indonesia butuh minimal 3 kilang baru sampai 2015.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan, dengan asumsi pertumbuhan permintaan BBM 4% per tahun dengan produksi BBM sebesar 677 ribu barel per hari, maka kebutuhan BBM di 2015 diperkirakan mencapai 1,294 juta barel per hari. Untuk mengatasi defisit BBM, Indonesia setidaknya membutuhkan 3 kilang baru di 2015.

"Harapan kami, (kilang baru) ini bisa dipenuhi. Tetapi kita tahu tidak mudah membangun kilang," kata Evita di kantor Kadin, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/12/2011).

Evita memaparkan, kapasitas kilang domestik saat ini mencapai 1,157 juta barel per hari. Produksi BBM di 2010 mencapai 676 ribu barel per hari sementara kebutuhan BBM di 2010 mencapai 1,064 juta barel per hari.

Maka terjadi defisit BBM di 2010 mencapai 388 ribu barel per hari atau 36%. Sementara di 2012, defisit BBM diperkirakan mencapai 617 ribu barel per hari atau 48%.

Dikatakan Evita, Indonesia ingin memiliki kilang baru sejak 1998. Namun hingga kini tak juga terwujud karena biaya yang dibutuhkan cukup besar, sementara marjinnya kecil.

"Sejak tahun 1998 kita menginginkan refinery (kilang) baru, belum bisa terwujud. Kini kami upayakan untuk mendapatkan insentif dari Kementerian Keuangan," tambahnya.

Pemerintah meminta para pengusaha Indonesia dalam Kadin bisa membantu pembangunan kilang di Indonesia. Untuk kawasan Asia Pasifik, kilang terakhir kali dibangun di 1998.
Khusus Indonesia, kilang yang usianya paling muda dan dapat memberikan keuntungan adalah Balongan yang dibangun tahun 1994. Sementara kilang-kilang lainnya, keuntungannya sangat kecil karena telah berumur tua lantaran dibangun tahun 1970-an.

Seperti diketahui, pemerintah mengharapkan Kuwait akan masuk untuk investasi perluasan kilang Balongan di Cilacap dengan nilai investasi US$ 8 miliar-US$ 9 miliar. Namun investasi tersebut tak kunjung terealisasi karena pemerintah belum bisa memenuhi insentif yang diminta pihak Kuwait.

Pada 19 Agustus 2010, Kuwait Petroleum International Company (KPI), yang merupakan anak usaha dari Kuwait Petroleum Corporation (KPC), bersama dengan Pertamina telah menandatangani MoU (Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding) untuk melakukan studi kelayakan terkait rencana pembangunan kilang baru Balongan yang berkapasitas 200-300 ribu barel per hari. Kilang tersebut nantinya terintegrasi dengan kompleks kilang di Jawa Barat.

Nota Kesepahaman ditandatangi oleh Hussain Esmaiel, selaku KPI President dan Frederick Siahaan yang dahulu menjabat sebagai SVP Investment Planning and Risk Management (Investasi, Perencanaan, dan Manajemen Resiko) Pertamina.

Dirut Pertamina Karen Agustiawan sebelumnya mengatakan, Pertamina berambisi untuk menambah dua kilang di 2014, dalam rangka mengamankan pasokan BBM dalam negeri. Dua kilang yang bisa selesai dibangun pada tahun 2014 yaitu ekspansi kilang balongan dan unit Residual Fluid Catalytic Craker di Kilang IV Cilacap.

Anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha sebelumnya mengatakan selama ini pembangunan kilang-kilang minyak di Indonesia masih sangat minim. Diduga ada pihak-pihak yang menghambat rencana pembangunan kilang di Indonesia sehingga impor BBM terus jalan.


(dnl/hen)