Pengamat Perminyakan Muhammad Kurtubi mengatakan konflik geopilitik antara kedua negara tersebut sangat menentukan ekonomi Indonesia, hal ini terkait arah konflik antara Amerika, Israel dan Eropa versus Iran.
"Iran bukan negara yang mudah ditaklukkan, pasti negara tersebut akan melawan jika diberi sanksi, salah satunya memblokir Selat Hormuz dimana 20% konsumsi minyak mentah dunia melewati selat tersebut," ujar Kurtubi, kepada detikFinance, Minggu (1/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi hampir sebagian besar, pasokan impor minyak ke Kilang Cilacap berasal dari Selat Hormuz, bisa dibayangkan kilang minyak terbesar di Indonesia yang mengcover konsumsi BBM Pulau Jawa bakal kekurangan pasokan minyak," ungkap Kurtubi.
Kondisi inilah yang berbahaya bagi Indonesia, selain karena pasokan yang bisa terhambat, volume impor minyak bisa kurang dan harga minyak melambung, subsidi pemerintah terhadap BBM bersubsidi akan melonjak.
"Pemerintah harus meronggoh kocek lebih dalam hanya untuk subsidi BBM, jika sampai 150 dollar/barel bisa jadi subsidinya mencapai Rp 200 triliun," tandas Kurtubi.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama telah menandatangani undang-undang yang mengatur sanksi baru bagi Iran (Defense Authorization Act). Sanksi itu menyasar aspek Bank Sentral dan sektor finansial Iran.
Sanksi ini untuk menekan Iran atas program nuklirnya. Salah satu tujuannya adalah untuk memukul sektor perminyakan Iran dan meminta perusahan asing untuk membuat keputusan antara melakukan bisnis dengan sektor finansial Iran atau kepada sektor ekonomi AS yang perkasa dan sektor finansialnya.
(hen/hen)











































