"Kesiapan infrastruktur seperti yg saya sebutkan, kalau LGV itu tinggal pakai SPBU aja, tidak perlu bikin SPBG lagi, tapi kalau memang untuk BBG ya harus bikin SPBG," katanya dalam acara acara Diskusi Polemik Problem BBM di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (7/01/2012).
Ia juga mencontohkan seperti yang ada di daerah Kuningan, Jakarta "Itu ada 3 itu LGV itu, lalu saya diberitahu oleh salah satu TV swasta, itu mikrolet dari Kampung Melayu ke Senen itu sejak tahun 1986 itu pakai BBG dan itu tidak apa-apa (aman) dan itu tabungnya sampai berkarat, mereka enggak mikir kalau sampai berkarat itu berbahaya atau enggak," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pindah ke pertamax itu ya enggak terlalu susah lah, itu hanya isinya aja yang berubah. Tapi kalau bikin BBG itu ya yang memang agak sulit karena harus ada gas yang mengalir ke situ," katanya.
Untuk pasokan gas dan pertamax, kata Widjajono, tidak ada masalah karena untuk pertamax hanya masalah bahan minyaknya sedangkan untuk gas sudah ada lifting terminal.
"Enggak masalah, kalau pertamax kan bahannya minyak, kalau merubah dari gas itu ya LGV yg paling gampang, kan converter kit-nya sudah disediakan. Pasokan gas itu tidak masalah karena kan sebentar lagi sudah ada lifting terminal dan ada kewajiban bagi KKKN utk menyediakan sebagian produksinya untuk transportasi. Jadi tidak masalah karena pemerintah memajukan transportasi umum," katanya.
(ang/ang)











































