"Kalau saya insinyur dan saya percaya PT DI. Mereka punya alat uji material dan itu yang namanya converter kit bukan kayak besi saja, itu kayak benang diumpel-umpel. Jadi kayak plastik disusun-susun. Jadi kalau itu bocor nggak meledak. Kalau dulu memang meledak, sekarang tidak," jelas Widjajono di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (10/1/2012).
Menurut Guru Besar ITB ini, PT DI sudah mempunyai bengkel di Jakarta sehingga pemasangan converter kit sudah bisa dilakukan meskipun produksinya dibuat di pabrik PT DI di Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga converter kit tersebut saat ini mencapai Rp 12 juta karena pesanannya sedikit. Kalau pemerintah memesan 1 juta converter kit, maka harga alat tersebut bisa Rp 9 juta per unitnya.
Dalam kesempatan itu Widjajono berpendapat, masyarakat bakal meminati converter kit karena harga BBG lebih murah ketimbang Pertamax. Jadi saat mobil pribadi di Jawa-Bali dilarang menggunakan bensin subsidi mulai April 2012, masyarakat bakal memilih BBG yang harganya murah.
Widjajono yang juga merupakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ini mengatakan akan memasang converter kit untuk mobil dinas DEN. Bahkan mobil pribadinya juga akan dipasang converter kit. Dia mengatakan converter kit ini aman dan tidak berbahaya. "Sebanyak 22 juta mobil yang sudah gunakan di seluruh dunia," tukasnya.
Pemerintah memang berencana untuk mengimpor 250.000 unit converter kit guna mendorong mobil pribadi beralih dari BBM ke BBG.
(dnl/hen)











































