RI Kehilangan 1.300 Barel Minyak/Hari di Musi Rawas

RI Kehilangan 1.300 Barel Minyak/Hari di Musi Rawas

- detikFinance
Kamis, 26 Jan 2012 15:03 WIB
RI Kehilangan 1.300 Barel Minyak/Hari di Musi Rawas
Jakarta - Indonesia kehilangan produksi minyak mentah 1.300 barel per hari dari lapangan di Sele Raya Merangin Dua Musi Rawas, Sumatera Selatan. Hal ini gara-gara surat Bupati Musi Rawas. Kenapa?

Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradnyana mengatakan, penghentian produksi terjadi sejak 23 Januari 2012.

Dikatakan Gde, Bupati Musi Rawas Ridwan Mukti memerintahkan penghentian pengangkutan minyak mentah menggunakan truk tangki sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dalam surat itu juga, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas membatalkan perjanjian kerjasama pemanfaatan jalan untuk pengangkutan minyak mentah antara pemerintah Musi Rawas dengan Sele Raya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah daerah meminta pengangkutan minyak mentah dilakukan melalui pipa transmisi," Gde dalam siaran pers, Kamis (26/1/2012).

Bupati menutup akses jembatan Bingin Teluk untuk angkutan minyak mentah. Alasan bupati ini adalah karena ketidakpuasan masyarakat di wilayah Desa Mandiangi, Kecamatan Rawas Ilir pada 14 Januari 2012 atas rusaknya jalan di Rawas Ilir karena kegiatan pengangkutan minyak mentah yang dilakukan Sele Raya.

Gde mengatakan hal ini dibantah Tokoh masyarakat Rawas Ilir bernama Damra Upaya yang mengatakan masyarakat melakukan aksi demo di jembatan dalam upaya menagih janji bupati agar merealisasikan perbaikan dan peningkatan kualitas jalan dari dan menuju Rawa Ilir.

Tidak ada kaitan demo yang dilakukan masyarakat dengan penghentian pengangkutan minyak Sele Raya sebagaimana yang tercantum dalam surat keputusan bupati Musi Rawas. Masyarakat tetap terbuka terhadap investasi yang masuk di daerahnya selama membawa kebaikan untuk masyarakat sekitar. "Bupati jangan mengadu domba masyarakat dengan Sele Raya," kata Damra.

Gde menambahkan, terkait pembangunan pipa transmisi, BP Migas dan Sele Raya telah sepakat untuk membangunnya. "Tapi butuh waktu beberapa tahun, sehingga untuk sementara pengangkutan minyak menggunakan truk," kata Gde.

Hal ini berdasarkan studi kajian pembangunan pipa yang telah dilakukan Sele Raya. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pipa sepanjang 180 kilometer itu antara lain, pembebasan lahan, perijinan jalur pipa (right of way/ROW), hingga pipa yang melewati hutan lindung.

Dia mengungkapkan, penghentian produksi sangat berisiko merusak reservoir yang dapat mengakibatkan matinya sumur-sumur produksi Sele Raya.

Dikatakan Gde, kejadian penghentian ini bukan yang pertama kalinya. Pada 19 sampai 23 Desember 2011 lalu terjadi menutupan jalan di Kecamatan Lakitan, di perkebunan kepala sawit milik perorangan. Akibatnya, produksi Sele Raya berkurang selama 13 hari dari 19 Desember 2011 sampai 1 Januari 2012 hingga titik terendah yaitu 150 barel minyak per hari.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads