Industri Butuh, Pemerintah Malah Doyan Ekspor Gas Murah

Industri Butuh, Pemerintah Malah Doyan Ekspor Gas Murah

- detikFinance
Jumat, 27 Jan 2012 15:34 WIB
Industri Butuh, Pemerintah Malah Doyan Ekspor Gas Murah
Jakarta - Saat ini industri dalam negeri dan PLN 'teriak' kekurangan gas, dan mereka berani membeli gas US$ 9 MMBTU. Namun ternyata pemerintah malah pilih ekspor gas cair (LNG) Tangguh senilai US$ 3,35 MMBTU atau jauh lebih murah dari harga pasar.

Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan pihaknya mengharapkan realisasi kepastian pasokan gas untuk dalam negeri karena permintaan gas yang besar saat ini.

"Terkait dengan keekonomian gas bumi, harga yang masih bisa diterima konsumen domestik saat ini adalah sekitar US$ 9 per juta Btu, atau hampir tiga kali lipat dari harga LNG Tangguh yang diekspor dengan hanya US$ 3,35 per juta Btu. Dengan harga yang jauh lebih baik ini tentu akan memberikan keekonomian proyek hulu yang lebih baik, meningkatkan pendapatan negara, dan menghindari potensi kerugian negara seperti ekspor LNG ke Fujian," kata Harun dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (27/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BUMN sektor migas ini menyatakan siap merogoh US$ 1,96 miliar atau sekitar Rp 17,6 triliun untuk membangun infrastruktur gas bumi demi penyaluran ke PLN dan industri dalam negeri hingga 2014.

Sebelumnya, Harun mengatakan pihaknya ingin membeli gas dari Lapangan Tangguh hingga US$ 10 per MMBTU dengan volume mencapai 1,5 juta metrik ton. Selama ini gas Tangguh dijual ke Fujian asal China seharga US$ 3,35 per MMBTU.

Niat pembelian gas dengan harga hingga tiga kali lipat ini dikarenakan fasilitas FSRU (Floating Storage Regasification Unit) atau terminal gas milik Pertamina dan PGN akan rampung dan siap beroperasi di 2012. FSRU tersebut akan mendapatkan pasokan gas dari lapangan Bontang sebanyak 1,5 juta metrik ton per tahun. Sedangkan kapasitas FSRU ini dapat menampung hingga 3 juta metrik ton per tahun.

Kontrak LNG Tangguh ke China diteken pada 6 September 2002, kendati pemerintah setempat sebenarnya menolak untuk membeli gas dari Indonesia. Belakangan, pemerintah China melunakkan sikapnya dan menerima pasokan LNG dari Tangguh yang dialokasikan untuk Provinsi Fujian. Volume gas yang dikapalkan ke Fujian sebanyak 2,4 juta ton per tahun.

Harga gas ketika dikontrak sebesar US$ 2,4 per MMBTU. Harga menggunakan formula batas atas harga minyak mentah sesuai patokan Japan Cocktail Crude.
Harga atas yang ditetapkan dipatok US$ 24 per barel. Artinya, meski harga minyak berada di atas US$ 24 per barel, perhitungan formula harga gas tetap tidak bisa lebih dari harga batas atas. Dengan mekanisme ceiling price tersebut harga LNG Tangguh maksimal sebesar US$ 3,35 per MMBTU sesuai acuan harga minyak US$ 38 per barel, meski harga minyak mentah kini sudah di atas US$ 100 per barel.

Kontrak gas Tangguh juga berbeda dengan harga ekspor LNG dari Kilang Badak di Bontang, Kalimantan Timur dan kilang Arun di Nanggroe Aceh Darussalam yang tidak memakai batas atas, namun mengkuti harga minyak mentah. Saat ini, dengan harga minyak di atas US$ 100 per barel, harga LNG Badak mencapai US$ 20 per MMBTU.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana sebelumnya menyatakan proyek LNG Tangguh tidak merugikan negara. Situasi saat lapangan Tangguh akan dikembangkan adalah buyer-market yaitu situasi di mana pembeli yang menentukan harga yang ditawarkan oleh penjual LNG.

Indonesia menurut Gde telah mendapatkan harga yang terbaik untuk ekspor LNG ke provinsi Fujian, China karena kontrak tersebut didapat tanpa melalui tender. Sebelum mendapatkan kontrak pasokan LNG ke Fujian, Indonesia kalah dalam tender pasokan LNG ke Guangdong dan Taiwan karena harga yang ditawarkan terlalu tinggi saat itu.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads