Menurut Ekonom dan Komisaris Independen Bank Permata, Tony Prasetiantono, pemerintah sangat lambat merespons kebocoran anggaran subsidi BBM yang terus naik. Harusnya kenaikan harga BBM segera dilakukan, jika langkah ini terjadi tahun lalu relatif lebih aman.
Alasannya, sepanjang 2011 inflasi absolute rendah 3,65%. Dan jika harga BBM naik pun dampak inflasi tidak terlalu tinggi, maksimal 1%. "Pemerintah kehilangan momen. Padahal dia punya kesempatan menaikkan harga BBM, tepatnya mengurangi subsidi BBM," tutur Tony di Jakarta, Kamis (2/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Tony, ada dua opsi yang bisa dipilih pemerintah dalam mengamankan anggaran subsidi BBM yang makin gendut. Pertama, naikkan rata BBM Rp 1.000. "Tutup mata saja, naik Rp 1.000," jelasnya.
Pemerintah harus tegas jika ingin mendorong efisiensi energi. Ubah persepsi kalau Indonesia masih menjadi penghasil minyak di dunia. Indonesia sudah menjadi importir minyak, demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Penghasil minyak, iya dulu waktu zaman Soeharto tahun 80-an, 90-an. Efisiensi itu harus dipaksakan. Harus dipaksakan, enforcement. Tidak bisa melakukan pembatasan, dan sekedar imbauan. Terlebih kredibilitas pemerintah yang tidak tinggi. Nggak efektif dengan cara persuasi," tegas Tony.
Opsi kedua adalah melakukan klasifikasi. Artinya, ada tiga jenis tipe. Orang yang pakai motor, BBM tetap Rp 4.500 per liter. Alasannya segmen ini, punya kemampuan ekonomi paling kecil.
Jenis kedua, naikkan harga BBM secara parsial meski belum mencapai nilai ekonominya. Naik pada kisaran Rp 6.500. "Naikkan saja secara parsial. Dan untuk mobil tua, yang boros dan teknologi sudah ketinggalan jangan lagi ada di jalan. Cukup dipandangi, gosok-gosok, bahkan taruh di museum," katanya.
Jenis ketiga, orang yang pakai pertamax, karena orang-orang tersebut memiliki kemampuan ekonomi. "Harga minyak tidak mungkin lagi berada di level US$ 70 per barel. Karena sudah tidak imbang antara suplai dan demand, di tengah pesatnya perkembangan dunia. Sekarang sudah sulit mencari minyak," imbuhnya.
Bagi Tony, pemerintah harus segera putuskan kenaikan BBM. Dengan format apapun yang dipilih. "Kalau mau naik, sebaiknya saat siklus inflasi rendah. Saat musim tanam, di Maret. Gampangnya semester pertama," pungkasnya.
(wep/dnl)











































