Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan PLN Satri Falanu mengatakan reklamasi Pantura Jakarta merugikan operasional dan material PLN. Ia menguraikan reklamasi Pantura Jakarta tahap pertama yang saat ini menjadi kawasan Pantai Mutiara telah mengubah infrastruktur outlet sistem air pendingin PLTGU Muara Karang.
Hal ini menyebabkan meningkatnya suhu air di intake canal pembangkit dari kondisi awal 29 derajat celcius menjadi 31,1 derajat celcius. Reklamasi Pantura Jakarta juga berpotensi menimbulkan semakin sempitnya zona sirkulasi air pendingin serta air baku untuk kebutuhan PLTGU Muara Karang sehingga menyebabkan meningkatkan suhu air pendingin yang sekarang mencapai 31,3 derajat celcius. Ia menuturkan dampak lainnya terjadi sedimentasi pada muara sungai Angke dan Sungai Karang yang tertutup oleh pulau-pulau reklamasi. Faktor ini mengganggu operasional PLTGU Muara Karang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satri menambahkan, PLN tidak menolak rencana pemerintah provinsi DKI terkait reklamasi Pantura Jakarta. Namun, ia berharap sebaiknya rencana tersebut memiliki perencanaan yang matang agar tidak merugikan perseroan dan mengganggu operasional pembangkit Muara Karang.
Ia menuturkan dua alternatif sebelumnya yang ditawarkan Pemprov DKI untuk PLN dinilai masih belum mendukung operasional PLTGU Muara Karang. "Belum ada yang pas karena potensi kenaikan temperatur dampaknya masih merugikan operasional Muara Karang," sebutnya.
Lanjutnya, ia menyebutkan dengan adanya reklamasi Pantura Jakarta juga membuat pembangkit harus menambah pasokan bahan bakar sebanyak 72.000 liter Marine Fuel Oil (MFO).
Potensi ini disebabkan fasilitas pipa untuk PLTGU Muara Karang aksesnya terdapat di kawasan yang akan direklamasi. Ia menjelaskan Pembangkit Muara Karang memiliki kapasitas listrik mencapai 1648 megawatt (MW) yang terdiri dari PLTG Blok 1 berkapasitas 508 MW. Selain itu, ada PLTGU Blok 2 berkapasitas 740 MW dan PLTU Unit 4 serta 5 berkapasitas 400 MW.
"Nantinya juga berimbas dalam pasokan gas dan bahan bakar minyak ke Muara Karang karena posisi pipa gas serta BBM kan ada di kawasan yang direklamasi. Makanya, kita sekarang juga sudah berkoordinasi dengan stakeholder terkait seperti Pertamina," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Operasi Jawa Bali PLN Ngurah Adnyana menjelaskan di Pantura Jakarta, selain PLTGU Muara Karang, terdapat dua pembangkit listrik lainnya yaitu PLTGU Priok dan PLTGU Muara Tawar. Menurutnya, keberadaan ketiga pembangkit listrik terutama PLTGU Muara Karang sangat strategis sebagai obyek instalasi vital dan pasokan listrik Jakarta dan daerah sekitarnya.
Ia menyebutkan ketiga pembangkit tersebut memasok sekitar 53% dari kebutuhan listrik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa kebutuhan listrik lokasi penting di Jakarta dan Tanggerang seperti Istana Negara, Bandara Soekarno Hatta, Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kawasan bisnis Sudirman hingga Menteng tergantung dari ketiga pembangkit listrik tersebut.
Adnyana menuturkan dengan kapasitas total 1.648 megawatt serta enam unit, oeprasional PLTGU akan terkena dampak dari rencana reklamasi Pantura Jakarta. "PLTGU ini perannya vital selain Muara Tawar dan Priok. Kalau nanti terkena, pasokan listrik akan terhambat," ungkapnya.
(dnl/dnl)











































