Demikian disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun kepada detikFinance, Rabu (29/2/2012).
"Saya pikir naik BBM subsidi ke Rp 6.000 sudah sangat wajar. Apalagi masyarakat juga pernah mencapai Rp 6.000 di 2008, jadi sangat wajar. Apalagi kondisi ekonomi kita sudah leih baik," tutur Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga bensin subsidi bakal mendorong insentif pemakaian bahan bakar gas (BBG) yang harganya lebih murah. "Kalau bensin subsidi Rp 6.000 maka orang terdorong untuk memakai BBG yang harganya sekitar Rp 4.500. Jadi ini insentif untuk BBG dan bagian untuk mendorong transportasi," kata Harun.
Selain itu Harun mengatakan, meskipun kebijakan pembatasan BBM subsidi dengan melarang mobil pribadi pakai bensin premium batal namun Pertamina tetap gencar membangun pompa bensin pertamax di daerah-daerah.
"Karena kita ada program untuk meningkatkan penjualan pertamax. Dari penjualan tahun lalu 1,4 juta kiloliter (KL), menjadi 1,7 juta KL. Karena itu kita harus menambah outlet," imbuhnya.
Saat ini harga keekonomian bensin premium, ujar Harun, tidak jauh berbeda dengan pertamax yang harganya di kisaran Rp 9.000. "Mungkin beda Rp 200 antara premium dengan pertamax," tukas Harun.
Seperti diketahui, kemarin Menteri ESDM Jero Wacik secara resmi ke Komisi VII DPR, Menteri ESDM Jero Wacik mengajukan kenaikan harga BBM subsidi. Pemerintah minta harga bensin premium dan solar naik Rp 1.500/liter. Namun ini belum disetujui Komisi VII DPR.
(dnl/ang)











































