Anggota banggar DPR Satya W Yudha menerangkan, hasil proposal kenaikan BBM yang disampaikan pemerintah belum dapat menyakinkan wakil rakyat. Terjadi dua pandangan yang berseberangan antar pemerintah dan DPR, mengingat putusan kenaikan BBM dapat berdampak buruk bagi rakyat.
"Kita akan lanjutkan hari ini. Proposal yang disampaikan pemerintah belum diterima. Bisa sampai malam (pembahasan)," kata Satya kepada detikFinance, Minggu (25/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan ketentuan, dalam pembahasan UU apalagi ini APBN, harus mendapat persetujuan di tingkat I. Namun jika tetap tidak ada kesepakatan maka dilanjutkan pada rapat Paripurna (27/3/2012), di tingkat II," terangnya.
Menurutnya saat adanya keputusan antara Banggar DPR dan Pemerintah, maka proses persetujuan di rapat paripurna akan berjalan lebih mulus. "Saat Rapat Paripurna Selasa depan belum juga ada putusan, maka pembahasan masih berlanjut," tuturnya.
Sejak Jumat lalu, pemerintah yang diwakili Menteri Keuangan Agus Martawardojo dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik bertemu Banggar DPR guna memuluskan rencana kenaikan BBM premium menjadi Rp 6.000 per liter.
Terjadi adu pendapat sekaligus pertentangan kenapa BBM harus dinaikkan. Anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi PKS Achmad Rilyadi mengatakan, sikap fraksinya sampai saat ini masih wait end see alias menunggu. Tapi kalaupun tidak naik tidak kiamat juga Indonesia.
"Kita masih wait and see, tapi kalau tidak naik juga tidak masalah kan, tidak kiamat juga kan," ujar Rilyadi kemarin.
Penolakan juga masih dipegang teguh Fraksi Partai Golkar. Keputusan fraksi adalah bulat, hingga kemungkinan keputusan Banggar akan dilakukan melalui voting.
"Sikap fraksi kami menentang kenaikan BBM. Dan itu tidak bisa diubah lagi. Dan kalau ada sikap fraksi yang berbeda, maka akan dilakukan voting," tegas Wakil Ketua DPR, Pramono Anung.
(wep/hen)










































