Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo dalam tulisannya berjudul 'Kesalahan Persepsi tentang Energi di Indonesia' yang dikutip, Selasa (27/3/2012).
"Negara-negara Amerika Latin yang anti Neolib seperti Brasil, Argentina, dan Chili BBM-nya tidak disubsidi, akibatnya BBN (Bahan Bakar Nabati) dan Industri Nasional (mobil, pesawat, senjata dan pertanian) berkembang," jelas Widjajono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Petrobras adalah perusahaan migas terpandang di dunia. Di India dan Pakistan maupun China dan Vietnam (komunis) tidak ada subsidi BBM tetapi transportasi umum disubsidi sehingga nyaman dan industri nasionalnya meningkat pesat," cetus Widjajono.
Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, BBM murah hanya diterapkan di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah seperti Arab Saudi, Irak, Lybia, dan Venezuela.
"Bahkan harga bensin di Iran harga bensin US$ 0,67 per liter. Padahal negara itu cadangan minyaknya 138 miliar barel. Sementara di Indonesia harga bensin US$0,59 per liter. Ini karena mereka (Iran) mengutamakan gas untuk transportasi," tutup Widjajono.
(dnl/dru)











































