Harga Batal Naik, Jatah BBM Subsidi Terancam Habis Setelah Lebaran

Harga Batal Naik, Jatah BBM Subsidi Terancam Habis Setelah Lebaran

- detikFinance
Selasa, 01 Mei 2012 12:20 WIB
Harga Batal Naik, Jatah BBM Subsidi Terancam Habis Setelah Lebaran
Jakarta - Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi makin tinggi sepanjang kuartal I-2012 kemarin karena banyak penimbunan akibat rencana kenaikan harga BBM subsidi 1 April 2012 yang ternyata batal. Jika ini dibiarkan, jatah BBM subsidi 40 juta kiloliter (KL) habis usai lebaran di Agustus 2012.

Hal ini disampaikan oleh Pengamat Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen Agus Pambagio kepada detikFinance, Selasa (1/4/2012).

"Konsumsi BBM subsidi tinggi, apalagi banyak kendaraan operasional tambang, perkebunan, dan industri lain yang menggunakan BBM subsidi. DPR membatalkan kenaikan harga, dan harus dimintai tanggung jawabnya. Menurut saya jatah BBM subsidi 40 juta KL bisa habis setelah lebaran," tutur Agus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan, jalan yang paling baik saat ini memang hanya menaikkan harga BBM subsidi, sehingga anggaran subsidi tidak membengkak terus dan akhirnya justru subsidi dinikmati oleh pihak yang tidak berhak seperti kendaraan tambang dan perkebunan tersebut. "Harus diselidiki, siapa di balik perusahaan tambang dan perkebunan itu? Karena hal ini tidak bisa diberantas," jelas Agus.

Besarnya konsumsi BBM subsidi belakangan ini membuat Pertamina memperketat penyaluran BBM subsidi di beberapa daerah. Tak heran banyak antrean terjadi di SPBU beberapa daerah, bahkan antreannya hingga 1 km.

"Saya mendukung upaya Pertamina untuk memperketat penyaluran BBM subsidi. Kalau dilepas begitu saja maka jatah BBM subsidi bakal kurang dan Pertamina yang disalahkan," kata Agus. "Jatah BBM subsidi 40 juta kiloliter (KL) itu nggak cukup tahun ini, apalagi DPR tolak menaikkan harga BBM."

Apalagi pihak Pertamina mengatakan, karena rencana kenaikan harga BBM subsidi yang didengungkan akan dilakuakn 1 April 2012 dan pembatasan BBM yang didengungkan terjadi 1 Mei 2012, terjadi aksi spekulasi dan penimbunan BBM subsidi di daerah, meski rencana itu batal. Belum lagi, di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera, BBM subsidi habis diminum oleh truk-truk perusahaan tambang yang diduga dimiliki oleh 'orang kuat'.

"Jadi saya lebih setuju harga BBM naik! Karena antrean di daerah akibat kenaikan BBM batal. Saya minta pertanggungjawaban politisi yang berkoar demi rakyat menolak BBM naik. Politisi dari 3 partai yang menolak BBM naik harus bertanggung jawab, bagaimana yang harus dilakukan," tutur Agus.

Keputusan dari DPR yang menolak harga BBM naik menurut Agus membuat kacau. Konsumsi BBM subsidi menjadi makin tak terkendali karena banyak spekulasi. "Sekarang kalau konsumsi BBM tidak ditahan, maka akan bobol. Apalagi biasanya di daerah-daerah industri tambang, perkebunan, dan industri pasti suplai BBM kurang, karena truk-truk dan mobil operasional industri itu minum BBM subsidi," kata Agus.

Sebelumnya, Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim pernah mengatakan konsumsi BBM subsidi di Maret lalu memang melonjak. Total konsumsi BBM bersubsidi Maret 2012 mencapai 3,7 juta KL yang terdiri dari 2,374 juta KL premium, 104 ribu liter minyak tanah, dan 1,305 juta KL solar. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi pada Januari dan Februari.
(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads