SBY Tunda Pembatasan, Gantinya 'Hari Bebas BBM Subsidi'

SBY Tunda Pembatasan, Gantinya 'Hari Bebas BBM Subsidi'

- detikFinance
Jumat, 04 Mei 2012 12:25 WIB
SBY Tunda Pembatasan, Gantinya Hari Bebas BBM Subsidi
Jakarta - Ditundanya pembatasan konsumsi BBM subsidi membuat pemerintah mencari alternatif lain untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi, salah satunya penerapan hari bebas BBM subsidi.

"Pembatasan bukan tidak jadi, untuk sementara Ppembatasan masih jadi pertimbangan. Tapi hal yang lain dilakukan pemerintah adalah mewajibkan mobil dinas pakai BBM non subsidi, pengurangan SPBU jual premium di daerah elit dan sepertinya akan ada jalan Tol Free Day dan free day hari BBM bersubsidi," kata Dirjen Minyak dan Gas, Evita Herawati Legowo di Teluk Jakarta, Jakarta, Jumat (4/5/2012).

Dikatakan Evita, untuk hari bebas BBM bersubsidi nantinya akan dilakukan seminggu sekali di daerah-daerah tertentu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk tahap awal akan dilakukan di Jabodetabek dahulu, tapi itu nanti akan diungkapkan Pak Menteri ESDM (Jero Wacik) nanti sore di Kantor Kementerian ESDM," tukas Evita.

Sebelumnya, Presdien SBY hanya mengeluarkan 5 aturan penghematan BBM dan listrik untuk mengontrol konsumsi BBM subsidi tak melewati jatah 40 juta kiloliter (KL) tahun ini.

Adapun lima putusan yang telah disepakati untuk dikeluarkan adalah:

  1. Untuk kendaraan dinas pemerintah dilarang menggunakan BBM subsidi. Ini diatur melalui Keputusan Menteri ESDM dan sudah disetujui pemerintah. Untuk mobil pelat merah dan BUMN akan dipakaikan stiker.
  2. Untuk kendaraan operasional pertambangan dan perkebunan dilarang pakai BBM subsidi. Pemda diminta ikut mengawasi.
  3. Konversi penggunaan BBM ke BBG untuk Pulau Jawa
  4. PLN dilarang membangun pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Semua harus berganti ke pembangkit berbahan bakar air, matahari, panas bumi, dan batubara
  5. Penghematan listrik di gedung-gedung pemerintahan.
Khusus untuk mobil pemerintah pelat merah, larangan menggunakan bensin subsidi atau premium pertama dilakukan untuk Jabodetabek, kemudian diikuti Jawa-Bali dan akhirnya di seluruh kota di Indonesia.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads