Pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan soal pedagang impor minyak bisa memicu kemarahan para 'mafia impor'. Dahlan mengkritik Pertamina soal mekanisme impor minyak melalui trader (pedagang perantara).
"Kalau ada upaya untuk mendorong Pertamina beli langsung ke produsen minyak, maka ada yang terusik dan marah besar," kata pengamat perminyakan Kurtubi kepada detikFinance, Rabu (8/5/2012)
Menurut Kurtubi, hal itu bukan tanpa alasan. Ia mencatat nilai impor minyak Indonesia sangat besar setiap tahunnya bisa mencapai US$ 35 miliar atau kurang lebih Rp 340 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pernyataan-pernyataan Dahlan Iskan terhadap praktik impor minyak melalui pedagang bisa saja mengusik pihak-pihak yang berkepentingan terhadap impor minyak.
"Logikanya orang-orang yang merasa dirugikan, terkait adanya upaya mendorong Pertamina mengimpor ke produsen langsung tentunya dia akan bereaksi, saya tidak punya bukti soal itu. Ada kekhawatiran itu, yang namanya mafia itu kan bisa menyuruh orang," katanya.
Sebelumnya Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta Pertamina tak membeli minyak dari pedagang. "Soal Pertamina, soal kemungkinan Pertamina mengimpor BBM dan minyak mentah dari sumbernya, tidak dari pedagang," ujar Dahlan kemarin.
Menurut Dahlan, sebuah perusahaan besar sebaiknya membeli bahan baku langsung dari produsennya.
"Ya Pertamina kan perusahaan besar masak beli minyak dari pedagang, perusahaan besar sebaiknya membeli langsung dari sumbernya. saya suruh mempelajari karena kalau di swasta, perusahaan besar itu beli dari sumbernya," ujarnya. (hen/dnl)











































