Makin menipisnya jatah BBM subsidi di Kalimantan membuat masyarakat di wilayah tersebut mudah tersulut emosinya. Bahkan ada ancaman dari warga untuk membakar SPBU.
Lebih parah lagi, sudah terjadi aksi pembunuhan gara-gara masalah BBM subsidi di Kalimantan.
Hal tersebut disampaikan oleh etua DPD Himpunan Wirausaha Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kalimantan Addy Haerudin, dalam rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan diungkapkan Addy, setiap SPBU di Kalimantan hanya mendapatkan jatah 10 kiloliter (KL) solar dan dalam 2,5 jam sudah abis.
"Padahal yang antre berjam-jam sepanjang 2 km tidak kebagian, yang tidak kebagian ini yang emosi dan marah besar, bahkan saat ini hampir tiap hari petugas operator sakit bergantian, karena tindakan kekerasan yang dilakukan masyarakat karena tidak kebagian BBM," jelasnya.
Diungkapkan Addy lagi, sampai saat ini hampir semua SPBU di Kalimantan terjadi antrean. "Memang antrean di kota-kota besar di Kalimantan tidak terlalu panjang, tetapi yang di daerah lainnya antrean hingga 3-4 km dan itupun dalam 2,5 jam stok di SPBU sudah habis," ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Hiswana Migas, Eri Purnomohadi mengatakan saat ini pengusaha SPBU di Kalimantan sedang was-was akibat hiruk pikuk permasalahan minimnya kuota BBM subsidi yang didapatkan Kalimantan.
"Selain jatah Kalimantan yang sedikit tersebut tidak diimbangi pula dengan ketersediaan SPBU di Kalimantan yang dengan luas seperti itu hanya ada 175 SPBU saja, sementara Jabodetabek saja memiliki 720 SPBU," ungkap Eri.
Sementara Kalimantan yang memberikan sumber energi cukup besar ke Jawa, hanya mendapat 7% jatah kuota BBM subsidi, sementara Jawa-Bali yang minim sumbangannya menghabiskan kuota BBM Subsidi sebesar 60%.
"Kondisi masyarakat yang saat ini menjadi kurang kondusif, jujur membuat pengusaha resah dan menimbulkan ketidaknyamanan dalam berbisnis," tandasnya.
(rrd/dnl)











































