LNG menjadi solusi atas tingginya konsumsi BBM bersubsidi. Demikian disampaikan Karen di kantornya, Jakarta, Senin (6/8/2012).
"Kita menghemat Rp 13,6 tirliun dengan menggurangi BBM bersubsdi," jelas Karen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga LNG berkisar di US$ 18 sampai US$ 20 per million British thermal unit (MMBTU), sedangkan solar non subsidi sekitar Rp 9.807 per liter atau setara dengan US$ 32 per MMBTU," tambahnya.
Menurutnya, penggunaan LNG cocok untuk kendaraan besar dengan jarak operasi yang jauh, seperti bus, truk, lokomotif hingga sektor angkutan laut.
LNG pun terbukti sukses diaplikasikan pada bus dan truk di Amerika Serikat (AS).
"LNG sudah terbukti di Amerika digunakan pada truk dan bus sehingga kurang dari dua tahun. Bus, truk dan alat berat sudah menggunakan LNG," tutup Karen.
Di tempat yang sama, Dirjem Migas Kementerian ESDM Evita Legowo menegaskan, pemerintah sangat mendorong penggunaan LNG sebagai solusi ditengah tingginya anggaran BBM bersubsidi.
Ia optimis, dalam dua tahun kendaraan umum dan pertambangan sudah menggunakan LNG secara masal. "Kendaraan jarak jauh seperti trans Jawa, trans Sumatera dan alat berat menggunakan LNG. Ini dalam roadmap, dua tahun sudah bisa diterapkan," sebut Evita.
(feb/wep)











































