Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradyana mengatakan, produksi minyak turun bisa juga dikarenakan petir dan ular, bahkan turunnya bisa sangat banyak mencapai 15.000 barel per hari.
"Gara-gara petir bahkan ular, produksi minyak Indonesia bisa turun mencapai 10.000 barel-15.000 barel per hari. Seperti yang dialami Chevron Pacific Indonesia (CPI)," kata Gde di Jakarta, Selasa (14/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi seperti yang sering dialami Chevron yang memiliki lapangan Duri (Riau) dengan kontur minyak berat. Jika mesin terhenti, uap steam untuk memanaskan dan mencairkan minyak kembali jatuh, sehingga minyak kembali memadat dan sulit diproduksi.
"Makanya konsen saya ke depan, bagaimana menyelesaikan masalah ini menyemangati para pekerjanya dengan hambatan-hambatan tersebut. Karena turunnya produksi Chevron sangat besar sekali dan tentu berdampak pula pada hasil produksi minyak mentah, anjloknya produksi bisa mencapai 10.000-11.000 barel per hari," katanya.
Gangguan yang dialami Chevron ini, kata Gde jelas signifikan menurunkan produksi mintak naisonal. Dari produksi minyak nasional 890.000 barel per hari, dikurangi produksi Chevron yang berkurang 10.000 barel per hari, maka hasilnya bisa hanya 880.000 bph.
"Di sisi lain, kita juga berusaha meningkatkan produksi dengan mengais-ngais produksi yang terbilang kecil, salah satunya disetujuinya pengembangan 12 lapangan migas dengan estimasi investasi mencapai sekitar US$ 830 juta. Proyek-proyek diharapkan bisa mulai berproduksi (on stream) dari tahun 2012 sampai 2014," cetus Gde.
(rrd/dnl)











































