Iran Masih 'Dihukum' AS, Produksi Minyak Irak Melesat Tinggi

Iran Masih 'Dihukum' AS, Produksi Minyak Irak Melesat Tinggi

- detikFinance
Selasa, 14 Agu 2012 14:39 WIB
Iran Masih Dihukum AS, Produksi Minyak Irak Melesat Tinggi
Ilustrasi foto: Reuters
New York - Produksi minyak Irak bulan lalu berhasil melampaui pesaing regionalnya, Iran. Hal ini menyoroti dampak dari investasi berkelanjutan di Irak dan sanksi Barat terhadap Iran.

Menurut angka yang dirilis International Energy Agency pada Jumat lalu, produksi minyak Irak di bulan Juli berhasil melebihi 3 juta barel per hari.

Ini berarti 300.000 barel per hari lebih tinggi daripada output rata-rata Irak pada 2011. IEA mengatakan, peningkatan produksi di bulan Juli dikarenakan ada pembukaan fasilitas loading tanker lepas pantai baru di Teluk Persia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produksi minyak Irak sedari dulu lambat, tapi mulai menanjak stabil sejak perang berakhir. Ditambah, ketika pemerintah Irak bersama mitra-mitranya seperti Exxon Mobil, BP, Chevron dan Total memperbaiki ladang minyak yang sudah ada, sekaligus memburu sumber baru.

Dengan harga minyak berkisar di US$ 90 per barel, berarti kira-kira tingkat produksi Irak menyumbang pemasukan US$ 100 miliar per tahun. Mayoritas masuk sebagai penghasilan pemerintah Irak. Sebagian besar perusahaan minyak asing di Irak bekerja berdasarkan kontrak atau membayar tarif royalti tinggi.

Irak memiliki rencana ambisius, suatu hari memproduksi 11 juta barel per hari atau hampir menyamai output Rusia saat ini dan lebih banyak sejuta barel per hari dibanding produksi Arab Saudi. Namun dengan situasi keamanan yang masih belum menentu, perusahaan-perusahaan jadi enggan berinvestasi terlalu banyak di negeri ini.

Bulan lalu saja sudah ada dua penyerangan saluran pipa. Ditambah, penetapan hukum tentang bagaimana pembagian hasil minyak di antara rakyat Irak masih sangat lemah. Tak heran perkembangan produksi Irak pun lambat. Para analis mengatakan, realistisnya dalam 10 tahun ke depan Irak mungkin bisa menaikkan produksi menjadi 6 – 7 juta barel saja per hari.

β€œKami tidak melihat laju produksi Irak meningkat cepat sebelum 2014,” kata Patrick Gibson, analis suplai minyak di konsultan energi Wood Mackenzie, dikutip dari CNN Money (14/8/2012).

Sementara itu di Iran, produksi minyak mengalami tekanan serius sebagai imbas sanksi dari AS, Inggris dan Uni Eropa mengenai program nuklir Iran. Sanksi ini melarang impor minyak Iran ke Barat dan membatasi jumlah impor ke negara-negara Asia.

Walhasil, produksi minyak Iran di bulan Juli anjlok menjadi 2,9 juta barel per hari dari 3,6 juta barel per hari di triwulan terakhir 2011, menurut laporan IEA. Pertanyaan mengenai produksi Iran adalah seberapa cepat mereka bisa bangkit dan bagaimana jadinya ketika sanksi itu dicabut.

Gibson mengatakan, karena kompleksnya struktur hukum mengenai sanksi, butuh waktu lama bagi Iran untuk mencapai tingkat impor seperti dulu. Bahkan ketika sanksi itu sudah dicabut. Plus, masih ada kemungkinan ladang minyak Iran akan rusak karena kurang produktif selama disanksi.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads