"Kalau BBM dan listriknya murah, maka setengah mati menyuruh orang untuk menghemat (BBM dan listrik)," kata Jero dalam sambutannya di acara Sosialisasi Tentang Pelarangan Penggunaan BBM Bersubsidi di Sektor Pertambangan dan Perkebunan di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (30/8/2012).
Padahal, langkah penghematan penting karena saat ini subsidi energi dalam APBN sudah mencapai Rp 300 triliun, dari total anggaran APBN Rp 1.400 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun cara untuk mengurangi subsidi salah satunya menaikkan harga BBM dan tarif listriknya.
"Tapi kalau mau kurangi subsidinya ya naikkan harga BBM-nya ya naikkan tarif listriknya. Kalau harganya mahal orang akan berpikir ulang kalau mau boros, mending berhemat," katanya.
Tetapi kata Jero, untuk menaikan harga tidak mungkin semudah tahun-tahun lalu, harus izin dengan DPR dan belum tentu DPR setuju.
"Untuk mengurangi subsidi tersebut jalan satu- satunya ya dengan hemat, dan dimulai dari kendaraan pemerintah, dan 1 September 2012 ini dimulai pembatasan untuk kendaraan pertambangan dan perkebunan. Awalnya memang ada beberapa yang enggan, tapi ini harus, wajib dilakukan, kita harus hemat dengan keras," tandasnya.
(rrd/dnl)











































