Ditjen Bea dan Cukai mengamankan percobaan penyelundupan 35 juta liter minyak mentah Indonesia ke Malaysia. Diduga kuat minyak mentah yang nyaris diselundupkan tersebut milik Pertamina.
Manager Humas PT Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan, melihat lokasi perairan penangkapan kapal penyelundup di perairan internasional-Laut Natuna, kuat dugaannya minyak mentah tersebut milik Pertamina.
"Kuat dugaan kami minyak mentah tersebut punya kami, jika melihat lokasi penangkapannya. Pasalnya di daerah tersebut khususnya di Kepulauan Riau merupakan daerah paling sering terjadi pencurian minyak milik Pertamina EP," kata Agus ketika dihubungi detikFinance, Selasa (25/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Modus pencurian yang dilakukan pihak-pihak tersebut, diungkapkan Agus, seperti melubangi pipa-pipa penyaluran minyak mentah yang ada di bawah laut dan mengalirkannya ke tangki penampung atau kolam minyak.
"Si pencuri melubangi pipa minyak milik PT Pertagas (Pertamina gas-Anak Perusahaan Pertamina) dan mengalirkannya melalui selang ke tangki atau ke kolam penampungan, ada yang lokasi melubangi di bawah tanah ada pula yang di bawah laut," ungkap Agus.
Hasil pencurian minyak mentah tersebut, kata Agus, memang tidak langsung dijual, namun ditampung terlebih dahulu oleh pihak lain lagi (pengepul).
"Hasil curian minyak mentah tersebut ditampung oleh para pengepul, lalu dikumpulkan hingga banyak kemudian dijual ke kapal tangker untuk diselundupkan ke luar negeri. Ada pula yang dijual ke industri dan pabrik smelter pengolahan batubara di daerah sekitar," tukasnya.
Seperti diketahui, pada Minggu (23/9/2012) lalu, Ditjen Bea Cukai Kepulauan Riau menggagalkan sebuah super tangker bernama MT Martha Global berbendera Indonesia dengan muatan 35 juta liter (35 ribu kiloliter) minyak mentah Indonesia yang ingin diselundupkan ke Malaysia.
Super tangker tersebut berhasil ditangkap oleh kapal patroli Bea Cukai BC8005 di perairan internasional-Laut Natuna.
(rrd/dnl)











































