ADB: Harga BBM Murah Bikin 'Tekor', Cabut Saja Subsidi

ADB: Harga BBM Murah Bikin 'Tekor', Cabut Saja Subsidi

- detikFinance
Rabu, 03 Okt 2012 16:43 WIB
ADB: Harga BBM Murah Bikin Tekor, Cabut Saja Subsidi
Jakarta - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menilai harga BBM subsidi di Indonesia yang terlampau murah membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia menjadi defisit dan pemerintah harus berutang.

Hal ini disampaikan oleh Senior Country Economist Indonesia Resident Mission ADB Edimon Ginting dalam jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (3/10/2012).

"Pasalnya dengan harga BBM murah ini membuat orang makin senang menghabiskan BBM, dan mengakibatkan Indonesia harus mengimpor BBM jauh lebih banyak dari pada yang bisa diproduksi sendiri," ujar Edimon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Impor BBM membuat pendapatan di sektor migas Indonesia defisit, karena jumlah impor jauh lebih banyak ketimbang produksi. Sedangkan pendapatan di sektor non migas justru surplus.

"Ini memang masalah struktural. BBM subsidi di Indonesia cukup besar. Bayangkan 22% dari anggaran digunakan untuk subsidi BBM, sangat besar, ini tentu sangat tidak baik bagi perekonomian Indonesia," jelas Edimon.

Untuk itu ADB menyarankan pemerintah mencabut subsidi BBM yang tahun depan ditetapkan Rp 193,8 triliun, dan mengalihkannya ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur dan penurunan angka kemiskinan.

"Cabut saja subsidi BBM, besar sekali, tapi alihkan ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur dan penurunan angka kemiskinan negeri ini, karena pada dasarnya subsidi BBM itu hanya dinikmati oleh orang yang memang tidak berhak menerima subsidi BBM," cetusnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto meminta Presiden SBY untuk menghapuskan subsidi BBM. Karena subsidi BBM menggerus anggaran dan membuat pembangunan infrastruktur terbengkalai.

"Dengan pertimbangan bahwa dana saving (penghematan) dari subsidi BBM dialokasikan untuk mempercepat pembangunan di daerah, maka Kadin akan sepenuhnya mendukung kebijakan pemerintah untuk mengurangi dan bahkan meniadakan sama sekali subsidi BBM," tutur Suryo.

Di depan SBY, Suryo menyatakan, beban APBN saat ini sudah sangat berat karena subsidi BBM yang terlalu besar, bahkan tahun ini mencapai Rp 216 triliun sementara alokasinya tidak tepat sasaran alias dinikmati pihak-pihak tak berhak.

"Keprihatinan dunia usaha adalah bahwa tingginya beban subsidi BBM pada APBN akan menyebabkan tersisihnya pembangunan sektor lain yang mendesak. Kadin berharap dengan berkurangnya beban APBN untuk subsidi BBM, maka saving yang terjadi dapat dialokasikan kepada Daerah untuk pembangunan infrastruktur yang mendesak," papar Suryo.

Suryo juga pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga satu liter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads