Bahkan dari 10 besar pelanggan listrik di Indonesia, 8 di antaranya merupakan mal-mal yang beroperasi di Jakarta. Mendengar hal tersebut, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memiliki jawaban.
Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan menjelaskan, memang konsumsi listrik mal tinggi. Namun perlu dicatat, konsumsi ini dinikmati juga masyarakat kecil, mereka adalah yang menjalankan usaha kecil menengah di dalam mal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya konsumsi listrik menjadi lumrah, karena industri ritel yang hadir di pusat belanja terus berkembang. Mal pun menyumbang pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
"Apalagi kita semua cinta mal. Semua orang datang ke mal, dan menjadi primadona. Jadi sebenarnya saat masyarakat ke mal, listrik di rumah mereka kan menjadi mati. Sama kan," tuturnya.
Mal sering sekali menjadi sasaran tembak yang empuk bagi pemangku kebijakan. Mal disebut menjadi sumber kemacetan, hilangnya area hijau dan pemboros energi nomor satu. "Padahal kalau kita lihat macet terjadi saat jam pagi," tuturnya.
Karena itu para pemilik mal menyesalkan kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15% tahun depan, yang juga bakal dikenakan kepada mal.
(wep/dnl)











































